Yazidi, Minoritas Agama di Irak yang Keberadaannya Terancam
Sejumlah besar penganut Yazidi kini beremigrasi ke Jerman dan sekitar 4000 orang kini tinggal di Swedia.
Di tengah kekakuan sistemnya, struktur sosial yang tak bisa dikompromikan adalah hal dasar bagi kepercayaan Yazidi, dalam rangka purifikasi jiwa melalui proses kelahiran kembali yang berkelanjutan.
Para penganutnya mempercayai, meinggalkan komunitas dan kepercayaan mereka adalah sebuah bencana –siklus kehidupan akan musnah dan kemurnian roh tak akan dapat tercapai.
Hubungan antara kelompok Yazidi dengan tetangga mereka yakni mayoritas Kurdi-Muslim seringkali dilanda ketegangan. Menurut organisasi ‘Kurdwatch’, banyak Muslim menyebut ‘Malak Taus’ (sang Malaikat Merak) –malaikat tertinggi dari 7 malaikat yang menguasai dunia dan figur kunci dari kepercayaan Yazidi- sebagai penjelmaan setan. Sehingga banyak penganut Yazidi disebut sebagai ‘para pemuja setan’.
Beberapa Muslim –termasuk pemberontak Muslim Sunni ISIS, mempercayai bahwa kelompok Yazidi adalah orang yang ingkar terhadap agama atau Muslim yang keluar dari Islam, sebuah tuduhan yang menurut interpretasi ISIS layak dijatuhi hukuman mati.
Menurut sejarah, kelompok Yazidi tinggal di sejumlah komunitas yang berada di utara Irak, Suriah dan Turki, dengan beberapa jumlah kecil di Georgia dan Armenia.
Pada masa kekuasaan Ottoman, saat periode pembersihan minoritas ini terjadi, banyak dari mereka meninggalkan kampung halaman dan menjadi pengungsian di berbagai tempat.
Pada awal abad ke-21, ada sedikit perubahan yang terjadi. Selama kependudukan Amerika Serikat di Irak, kelompok Yazidi menjadi target kampanye bom kelompok pemberontak.
Yang terparah terjadi pada bulan Agustus 2007, ketika 4 serangan bunuh diri mengklaim lebih dari 500 nyawa penganut Yazidi di dua kota tempat tinggal mereka, yang terletak di dekat Mosul.
Komunitas modern Yazidi beserta anggota mereka yang tersebar dalam diaspora diperkirakan berjumlah antara 70.000 hingga 500.000 orang, dengan konsentrasi terbesar berada di provinsi Nineveh, di utara Irak.
Beberapa komunitas kecil tinggal di sepanjang utara Suriah, meski nasib mereka sejak awal dimulainya perang sipil Suriah sudah tak jelas rimbanya.
Sejumlah besar penganut Yazidi kini beremigrasi ke Jerman dan sekitar 4000 orang kini tinggal di Swedia.
Ahad lalu, ketika menaklukkan kota Sinjar, Irak, yang merupakan tempat bersejarah bagi kelompok Yazidi, para militan ISIS mengumumkan secara publik bahwa kelompok minoritas itu adalah ‘para penyembah setan’.
Setelah mengokupasi Sinjar dan memporak-porandakan tempat suci Muslim Syiah, para militan ISIS mendeklarasikan bahwa seluruh penduduk kota itu harus mengubah keyakinan mereka ke Islam Sunni, atau menghadapi eksekusi.
Perintah ini memicu eksodus massal puluhan ribu penduduk, baik dari kelompok Yazidi atau Kristen, yang meninggalkan rumah mereka dengan kendaraan atau berjalan kaki. Banyak dari penganut Yazidi, yang putus asa dan berpegang pada kepercayaan tua mereka, bergerak menuju pegunungan terdekat berharap ketinggian dapat menghindarkan mereka dari penganiayaan.