Rabu, 6 Mei 2026

Yazidi, Minoritas Agama di Irak yang Keberadaannya Terancam

Sejumlah besar penganut Yazidi kini beremigrasi ke Jerman dan sekitar 4000 orang kini tinggal di Swedia.

Tayang:
Editor: Satwika Rumeksa

SURYA Online, SURABAYA-Mereka tinggal di puncak gunung, terperangkap tanpa makanan ataupun air, populasi mereka sebanyak 50.000 jiwa, dan mereka adalah pengikut kepercayaan kuno yang misterius.

Kini, mereka terkepung oleh kelompok militan Islam yang mengancam hendak membunuh mereka semua.

Di belahan lain dunia, Presiden Amerika Serikat telah mendeklarasikan kesiapan negaranya untuk kembali menyeberang ke Irak dengan meluncurkan serangan udara guna melindungi mereka, penganut Yazidi.

Jadi siapa sebenarnya kelompok Yazidi?

Kelompok Yazidi adalah minoritas agama/etnis berbahasa Kurdi yang telah mempertahankan kepercayaan mereka walau mengalami penganiayaan selama berabad-abad.

Kelompok ini sangat merahasiakan agama, ritual, dan asal-usul mereka, dan inilah yang seringkali menimbulkan kesalahpahaman serta memicu ketegangan.

Kepercayaan mereka diyakini berasal dari zaman Zoroastrianisme Persia, yang berlangsung sebelum kedatangan Kristen dan Islam, meski beberapa akademisi modern mempertanyakan keterkaitan mereka dengan Zoroastrianisme.

Praktek dan spiritualitas kelompok Yazidi meliputi sejumlah elemen dan tradisi Kristen, Islam dan Yahudi. Para pengikutnya meyakini bahwa mereka diciptakan terpisah dari manusia lainnya dan merupakan keturunan Adam, namun bukan Hawa.

Orang-orang Yazidi dikenal lewat kepercayaan monotheistik mereka, dengan menyembah pada satu Kekuatan Esa, yakni ‘Yazdan’, yang dari-Nya 7 roh kudus berasal.

Roh tertinggi adalah Malaikat Merak, yang mengemban harapan mulia ‘Yazdan’. Yazdan dan Malaikat Merak dipandang sebagai dua kekuatan yang tak terpisahkan.

Kepercayaan ini adalah budaya lisan, dengan tradisi dan rahasia yang diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari ratusan generasi.

Dalam masyarakat tradisional Yazidi, seorang Kepala Sheikh mengemban tugas sebagai pemimpin tertinggi agama, sementara ‘Emir’ yang sekuler menguasai komunitas yang disusun berdasarkan sistem kasta yang kaku.

Berpindah keyakinan dari aliran ini dilarang, begitu pula pernikahan dengan non-Yazidi serta penyatuan antara kasta-kasta yang berbeda.

Beberapa tahun belakangan ini, ada laporan yang menyebut adanya pembunuhan ‘terhormat’ atas para perempuan Yazidi yang berusaha menikah dengan seseorang di luar keyakinan mereka.

Pada tahun 2007, hukuman mati bagi seorang gadis Yazidi Irak berusia 17 tahun mendapat perhatian global.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved