Liputan Khusus Dolly Mau Ditutup
Kelompok Kontra Penutupan : Dolly Jadi Sandaran Perekonomian
Perempuan 32 tahun asal Ponorogo itu mengatakan, setiap bulan memberikan Rp 3 juta - Rp 4 juta kepada keluarganya.
“Satu hari cuma dapat 3-4 tamu. Jadi tidak blong saja sudah lumayan,” katanya.
Front Pekerja Lokalisasi (FPL) yang mewadahi kawasan Jarak juga menyuarakan perlawanan.
Menurut Teguh, dari FPL, penutupan yang dicanangkan pemerintah kota hanya akan melahirkan masalah baru.
Apalagi, selama ini tidak sekali pun Tri Rismaharini (Risma) datang ke Dolly dan Jarak untuk menjelaskan rencananya.
Teguh yang Ketua RT I/RWXI itu mengatakan, roda perekonomian di kawasan itu ditopang sepenuhnya oleh kegiatan prostitusi.
Jadi, kata Teguh, begitu wisma ditutup, maka roda perekonomian akan hancur.
Mereka antara lain PKL, tukang laundry, toko pracangan, salon, tukang pijat, hingga pedagang pasar tradisional sekitar lokalisasi.
Hal yang sama disampaikan Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Lokalisasi Surabaya (FKMLS), Syafiq Mudhakir (49).
Baginya, Dolly bukan sekadar bisnis esek-esek, melainkan juga sebagai penggerak perekonomian ribuan orang.
Apabila Dolly ditutup, akan muncul kemiskinan baru seperti yang terjadi di kawasan Tambaksari dan Bangunsari yang telah lebih dulu dinyatakan tertutup untuk lokalisasi. (ben/idl)