Liputan Khusus Dolly Mau Ditutup
Kelompok Kontra Penutupan : Dolly Jadi Sandaran Perekonomian
Perempuan 32 tahun asal Ponorogo itu mengatakan, setiap bulan memberikan Rp 3 juta - Rp 4 juta kepada keluarganya.
SURYA Online, SURABAYA - Dalam satu bulan terakhir, aktivitas warga yang pro-penutupan dan kontra penutupan Dolly sama-sama bergerak.
Mereka intens menggelar pertemuan. Utamanya warga yang kontra-penutupan. Berbagai paguyuban mereka bentuk.
Kelompok yang menolak penutupan berdalih, penutupan lokalisasi mengancam kelangsungan ekonomi mereka.
Berbagai usaha akan mati. Mulai dari usaha parkir, pedagang kaki lima (PKL), pedagang keliling, tukang becak, rumah kos, toko pracangan, salon, sampai pasar tradisional di sekitar Dolly-Jarak.
Iwan, warga Dolly mengatakan, yang mengelola bisnis parkir sejak 1980-an mengaku bisnisnya bakal gulung tikar kalau Dolly ditutup.
Padahal, di Dolly dan Jarak, sedikitnya ada 80 pemilik lahan parkir, dengan jumlah juru parkir ratusan orang. “Hidup mati kita dari sini,” kata Iwan.
Rata-rata, pemilik lahan parkir di kawasan itu bisa mengantongi Rp 200.000 perhari.
Mereka memungut tarif Rp 5.000 untuk sepeda motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Khusus mobil, tarif yang berlaku dihitung tiap satu jam.
Kekhawatiran lebih dalam diungkapkan PSK yang harus meninggalkan kompleks prostitusi yang sudah berdiri sejak 1966 itu.
“Saya nanggung hidup ayah, ibu, satu anak dan dua saudara. Kalau di sini ditutup, mau dengan cara apa saya kasih makan mereka,” kata Tia, seorang pengghuni wisma di Dolly.
Perempuan 32 tahun asal Ponorogo itu mengatakan, setiap bulan memberikan Rp 3 juta - Rp 4 juta kepada keluarganya.
Tia sendiri mengaku penghasilannya terus menurun dalam dua bulan terakhir lantaran isu penutupan yang semakin gencar.
Sebelum isu penutupan merebak, dia bisa mengantongi Rp 15 juta - Rp 20 juta perbulan.
Dalam satu malam, dia bisa melayani lebih dari 10 tamu. Tapi, saat ini, penghasilan Tia menurun drastis.
Dia mengaku ‘hanya’ mengantongi Rp 6 juta - Rp 7 juta perbulan.