Gadis Penghibur di Malang
Faktor Ekonomi Selalu Jadi Alasan Utama
Beberapa lelaki terlihat ingin menciumnya, namun, ia menolak dengan menjauhkan bibir lelaki tersebut dengan tangannya.
SURYA Online, MALANG - Luna bukan hanya menjadi penyanyi. Ketika ada pengunjung yang ingin ditemani, mami (orang yang berwenang) penyanyi pun meminta Luna menghampiri para lelaki yang berumur tiga kali lipat dari umurnya itu.
Saat itu, ia duduk di kursi paling belakang dan sedikit cahaya untuk menemani para lelaki.
Beberapa lelaki terlihat ingin menciumnya, namun, ia menolak dengan menjauhkan bibir lelaki tersebut dengan tangannya.
Apakah nyaman dengan pekerjaan itu? Luna pun menjawab, “Ya lumayan,” tanpa ada senyum di wajah gadis ini.
Untuk pemberian tip (uang) dari pengunjung boleh dibilang ketat. Luna mengaku tidak mengambilnya.
Kalau diambil dan ketahuan maminya, maka uang itu harus dimasukkan ke dalam kotak saweran.
“Saya cuma dapat uang Rp 50.000 (honor menyanyi) itu saja,” katanya.
Pekerja anak-anak bukan hanya dialami Luna. Surya menelusuri beberapa tempat karaoke di Kota Batu, ternyata di sana banyak anak-anak berumur 18 tahun sudah menjadi purel.
Pekerjaan ini salah satunya dilakukan oleh Pipit (bukan nama sebenarnya).
Ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan membuatnya harus menggeluti pekerjaan itu.
Tak jarang lelaki yang memintanya menemani menyanyi melayangkan ciuman di pipi dan tubuhnya. Rata-rata, kebanyakan dari mereka studinya keteteran.
Mereka bekerja mulai sore hingga pukul 02.00. “Saya kos di Batu, sekolahnya di (Kota) Malang, kalau capek ya bolos,” kata Pipit dengan polos. (iks)