Tiru Sukses Pengembangan Pisang Cavendish Filipina
Pisang Mas Kirana diyakini akan dapat bersaing ketika Pasar Bebas Asia Tenggara resmi diberlakukan 2015 nanti.
Penulis: Mujib Anwar | Editor: Titis Jati Permata
Pasalnya, selain penampilan yang menarik, rasanya yang manis, warna kuningnya yang bagus, ketika kulit dikupas tidak menempel, dan kandungan gizi yang cukup banyak.
Pisang ini juga hanya dapat tumbuh di daerah tertentu saja, yakni lereng pegunungan dengan kemiringan tertentu, seperti Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Namun untuk dapat mewujudkan itu, Pakde Karwo menyebut ada pekerjaan rumah yang harus segera dilakukan, yakni bagaimana menambah berat Pisang Mas Kirana agar benar-benar pas untuk buah segar dengan standar internasional, seperti pisang Cavendish dari Filipina.
Dengan produksi mencapai 60,5 juta ton, Filipina merupakan ranking ketiga dunia produsen pisang dan ranking kedua dunia sebagai negara pengekspor pisang, khususnya jenis Cavendish.
“Agar bisa seperti pisang Filipina yang beratnya pas, maka research and development (penelitian dan pengembangan) untuk Pisang Mas Kirana harus segera dilakukan,” tegasnya.
Upaya itu, lanjut Pakde Karwo sangat penting, karena pengembangan Pisang Mas Kirana juga menjadi perhatian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Perhatian tersebut ditunjukkan, ketika Presiden SBY, 30 Juli 2013 lalu mengunjungi Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, yang ada di lereng Gunung Semeru. Nah, saat itulah SBY mencicipi nikmatnya Pisang Mas Kirana.
“Dalam kesempatan itu, Presiden juga minta kepada Menteri Perdagangan agar Pisang Mas Kirana segera mendapat sertifikat internasional,” terangnya.
Jika sertifikat internasional sudah didapat, penanaman Pisang Mas Kirana harus diperluas lahannya untuk menambah jumlah produksi.
“Dengan begitu, ke depan bisa menjadi cooperative farming,” imbuh Pakde Karwo.