Minggu, 26 April 2026

Tiru Sukses Pengembangan Pisang Cavendish Filipina

Pisang Mas Kirana diyakini akan dapat bersaing ketika Pasar Bebas Asia Tenggara resmi diberlakukan 2015 nanti.

Penulis: Mujib Anwar | Editor: Titis Jati Permata

SURYA Online, LUMAJANG - Salah satu sentra Pisang Mas Kirana di Kecamatan Senduro adalah Desa Kandang Tepus.

Dari kebun pisang Mas Kirana sekitar 658,94 hektar, 75 persennya berada di Desa Kandang Tepus.

Warga desa ini sebagian besar merupakan petani Pisang Mas Kirana.

Profesi petani dengan bangga dipilih, selain faktor geografis, juga tak lepas dari harganya yang lumayan dibanding dengan menanam komoditas lain.

Pohon pisang ini bisa panen usia 11 bulan, setiap batang pohon sekali panen menghasilkan 8 sampai 18 kg buah pisang atau 1 tandan berisi 7 sisir.

Sekretaris Kelompok Tani Raja Mas Desa Kandang Tepus Shohibul Fatah mengatakan, dalam kondisi alam normal, dengan luas lahan setengah hektar, setiap minggu Pisang Mas Kirana yang dapat dipanen minimal 18 kartun.

Sementara kalau hujan atau musim angin, hasil panen menyusut menjadi delapan kartun.

Setiap kartun berisi 11 kg Pisang Mas Kirana. Harganya ada dua tingkat, grade A Rp 5 ribu/kg dan grade B Rp 2 ribu/kg.

“Dengan harga tersebut, petani yang punya lahan seluas satu hektar, setiap tahunnya dapat  meraup penghasilan sampai Rp 32 juta,” katanya, diamini Jais, petani lainnya.

Paiman menambahkan, para petani semakin yakin menanam Pisang Mas Kirana karena mendapatkan jaminan pemasaran pasca panen. Pasalnya 10 distributor, diantaranya, CV Sewu Segar Nusantara dan PT Mulia Raya di Jakarta serta CV Karisma dan CV Alami Lumajang siap menjadi supplier Pisang Mas Kirana yang sudah dikemas dari kotak untuk selanjutnya didistribusikan ke sejumlah pasar swalayan di Indonesia.

“Dari situ, perputaran uang dari pemasaran Pisang Mas Kirana mencapai Rp 22,7 miliar setiap tahunnya,” beber Paiman.

Dengan perputaran sebesar itu, Pisang Mas Kirana diyakini akan dapat bersaing ketika ASEAN Free Trade Area (AFTA) atau Pasar Bebas Asia Tenggara resmi diberlakukan 2015 nanti.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Budi Setiawan mengatakan, agar bisa go international dan bersaing dengan produk hortikultura dari negara lain, petani harus terus mempertahankan jaminan kualitas produk dan memperbaiki kemasan (packaging) yang lebih higienis dan berstandar internasional.

“Jika itu dilakukan, insyaallah bisa cepat go international dan ketika AFTA diberlakukan nanti, Pisang Mas Kirana diharapkan bisa membanjiri tidak hanya pasar nasional, tapi juga ASEAN dan negara lainnya,” ujar Budi, kepada Surya, Jumat (4/10/2013).

Hal senada disampaikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Menurutnya, prospek bagi Pisang Mas Kirana untuk go international sangat besar.

Pasalnya, selain penampilan yang menarik, rasanya yang manis, warna kuningnya yang bagus, ketika kulit dikupas tidak menempel, dan kandungan gizi yang cukup banyak.

Pisang ini juga hanya dapat tumbuh di daerah tertentu saja, yakni lereng pegunungan dengan kemiringan tertentu, seperti Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Namun untuk dapat mewujudkan itu, Pakde Karwo menyebut ada pekerjaan rumah yang harus segera dilakukan, yakni bagaimana menambah berat Pisang Mas Kirana agar benar-benar pas untuk buah segar dengan standar internasional, seperti pisang Cavendish dari Filipina.

Dengan produksi mencapai 60,5 juta ton, Filipina merupakan ranking ketiga dunia produsen pisang dan ranking kedua dunia sebagai negara pengekspor pisang, khususnya jenis Cavendish.

“Agar bisa seperti pisang Filipina yang beratnya pas, maka research and development (penelitian dan pengembangan) untuk Pisang Mas Kirana harus segera dilakukan,” tegasnya.

Upaya itu, lanjut Pakde Karwo sangat penting, karena pengembangan Pisang Mas Kirana juga menjadi perhatian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Perhatian tersebut ditunjukkan, ketika Presiden SBY, 30 Juli 2013 lalu mengunjungi Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, yang ada di lereng Gunung Semeru. Nah, saat itulah SBY mencicipi nikmatnya Pisang Mas Kirana.

“Dalam kesempatan itu, Presiden juga minta kepada Menteri Perdagangan agar Pisang Mas Kirana segera mendapat sertifikat internasional,” terangnya.

Jika sertifikat internasional sudah didapat, penanaman Pisang Mas Kirana harus diperluas lahannya untuk menambah jumlah produksi.

“Dengan begitu, ke depan bisa menjadi cooperative farming,” imbuh Pakde Karwo.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved