Matur Suwun yang Mulai Luntur
Jangan lupa, ucapkan terima kasih, karena pilar keharmonisan akan menyokong hidup ini.
Tayang:
Editor:
Tri Hatma Ningsih
ENTAH berapa lama saya tak mendengar kata matur nuwun atau terima kasih di Kota Surabaya ini. Namun siang itu mengubah pengalaman hidup saya di kota Pahlawan ini lewat ucapan matur nuwun. Ucapan yang terlontar bukan dari orang kaya raya atau bahkan terpelajar.Namun dari sosok ibu tua yang sedang memulung di depan mini market.
Melihatnya sedang mengais sampah, saya berniat untuk membelikannya sebungkus roti tawar. Saya tak berharap ucapan terima kasih darinya, toh ketika roti telah berpindah ke tangannya, mendadak ia menggenggam tangan saya, matanya berbinar menatap saya begitu dalam, dan dari bibirnya meluncur 'matur nuwun mbak, mugi-mugi Gusti Allah memberkahi.'
Ucapan terima kasih sekaligus doa itu sungguh langka saya temukan di surabaya. Biarlah melalui kisah saya dengan perempuan pemulung tua ini, kita yang lebih terpelajar dapat belajar dan meneladani kesopanan untuk tak pernah mengucapkan matur nuwun, terima kasih, kepada siapa saja yang telah membantu kita dan jangan lupa mendoakannya juga. Melalui kesopanan ini pula sikap saling menghargai dapat tercipta dan menjadikan Surabaya makin harmonis. Akhirilah setiap sosialisasi kita dengan matur nuwun, maka pilar-pilar keharmonisan akan semakin menyokong kota ini.
Nonik MonMon
Alumnus FE UK Petra Surabaya
KOMENTAR
Berita Terkini
Berita Populer
Memuat video…