Lontong Balap Pak Gendut dan Tahu Tek Cak Kahar Jadi Jujugan

Begitu FJB dibuka, sekitar pukul 09.00 WIB, pengunjung langsung berdatangan.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Satwika Rumeksa
zoom-inlihat foto Lontong Balap Pak Gendut dan Tahu Tek Cak Kahar Jadi Jujugan
surya/ahmad zaiul haq
Festival Jajanan Bango meriah
SURYA Online, SURABAYA-Maraknya restauran cepat saji yang berasal dari luar negeri, ternyata tidak membuat menu tradisional Indonesia tergeser dan berkurang penggemarnya. Hal itu terlihat dalam ajang Festival Jajanan Bango (FJB) 2013 di halaman parkir mal Grand City Surabaya, Minggu (24/2/2013).

Begitu FJB dibuka, sekitar pukul 09.00 WIB, pengunjung langsung berdatangan. Mereka berkeliling di sekitar 50 stan makanan dan minuman yang ada di area FJB, kemudian duduk di meja dan kursi yang disediakan.

Di antara 50 stan makanan dan minuman yang 40 diantaranya adalah penjual makanan dan minuman tradisional khas Jatim, ada 10 stan yang merupakan penjual makanan tradisional nusantara yang sudah melegenda. Memiliki penggemar yang banyak dan sudah dikenal hingga luar daerah masing-masing. Dengan usaha yang minimal sudah berjalan lebih dari 10 tahun.

Sepuluh stan itu antara adalah sate Klatak Mak Adi Yogyakarta, Tengkleng Klewer Bu Edi Solo, Sate Jamur Cak Oney Yogyakarta, Tahu Tek Telur Cak Kahar Surabaya, Nasi Pindang Pak Ndut Surabaya, Mie Aceh Sabang, Mi Koclok Mas Edy Cirebon, Oseng-Oseng Mercon Bu Narti Yogyakarta, Lontong Balap Pak Gendut Surabaya, dan Nasi Goreng Kambig Kebon Sirih Jakarta.

Pengunjung pun rela antri untuk bisa menyantap menu-menu itu. “Hm, tidak perlu ke Yogya, Solo, Cirebon, Aceh, atau Jakarta nih. Cukup kesini saja,” komentar Manda La Mendol, pecinta kuliner yang juga pemilik blog khusus menu makanan itu.

Meski hujan deras sempat mengguyur, tapi pengunjung FJB tetap bertahan. Mereka berteduh dibawah tenda dan di depan stan penjual. Membuat antrean di stan makanan semakin panjang dan penuh.

Diantara sepuluh kuliner leegenda nusantara itu, lontong balap pak gendut dan tahu tek telur cak Kahar Surabaya masih menjadi jujugan. Meski mereka sebenarnya lebih mudah mendapatkan, karena keduanya ada di Surabaya. “Kalau dua ini meski ada di Surabaya, tetap ingin menyantapnya,” kata Nurila yang datang bersama seluruh anggota keluarganya sebanyak tujuh orang.

Lontong Balap Pak Gendut sendiri berdiri sejak tahun 1956. Indah, menjaga stan Lontong Balap Pak Gendut, merupakan generasi ketiga dari Mbah Djaudji. “Resepnya tidak ada yang saya ganti. Tetap pakai resep mbah,” kata Indah.

Sementara itu, selain dua menu kuliner khas Surabaya, stan sate koclok Mas Edy Cirebon juga menjadi jujugan lain. Legendda kuliner asal Cirebon ini sudah dimulai sejak tahun 1945.

Bersamaan dengan tahun kemerdekaan negara Indonesia. Hidangan berupa mie basah yang diseduh dengan kuah kaldu ayam. Dilengkapi suwiran daging ayam, irisan telur rebus, daun bawang, irisan kol, tauge, dan taburan baawang goreng. “Saat ini sudah dikelola oleh generasi ketiga,” kata Edi.

Kehadiran mereka di FJB 2013 sendiri, merupakan undangan dari PT Unilever sebagai penyelenggara FJB. Menurut Marieska Widhiana, senior Brand Manager Bangi, FJB sengaja digelar untuk melestarikan masakan tradisional, sebagai bentuk warisan Nusantara yang harus dijaga kelestariannya.

“Kami datang ke kota-kota, dengan membawa ke 10 kuliner legenda nusantara itu untuk mengenalkan mereka. Tidak hanya di daerah aslinya tapi juga daaerah lainnya,” kata Marieska.

Selain di Surabaya, FJB 2013 sebelumnya di gelar di Bandung. Setelah Surabaya, akan digelar di Malang, Semarang, dan Jakarta.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved