Sabtu, 9 Mei 2026

Bekas Pekarangan yang Ramai

Tayang:
[caption id="attachment_142994" align="alignnone" width="630" caption="PEKARANGAN - Pekarangan yang ramai menjadi awal mula nama dari Karangrejo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Kini pekarangan di kelurahan itu berubah menjadi permukiman dan tinggal satu pekarangan yang berada di Gg VI, seperti dalam foto di atas, Senin (17/1). Foto: surya/ahmad zaimul haq"][/caption] Kampung Karangrejo baru terbentuk setelah zaman revolusi. Padahal, sejak zaman Majapahit, Kampung Wonokromo yang bersebelahan dengan sungai, pernah menjadi pusat perdagangan. Nama Karangrejo bila dilihat secara umum adalah terdiri atas dua nama, yaitu Karang dan Rejo. Karang artinya pekarangan dan rejo artinya ramai. Menurut Supriyanto (69), warga Karangrejo Gang VI, yang merupakan sesepuh di kampung itu, menyebutkan, kampung ini memang dulunya adalah berupa pekarangan dan tegalan. ”Dulunya adalah pekarangan dan tegalan. Banyak tanaman seperti pohon mangga yang berjajar mulai dari tanah pekarangan hingga di jalan setapak yang membelah pekarangan,” jelas Supriyanto. Di jalan setapak yang terbuat dari tanah kapur putih itu, sudah ada beberapa rumah warga yang jaraknya berjauhan. Jarak satu rumah dengan rumah lainnya dibatasi dengan pekarangan yang luas. Tak hanya pohon mangga, tapi juga pohon pisang, dan persawahan. Tanah-tanah itu merupakan hasil pembagian dari semacam kepala desa saat zaman Belanda. Dulunya pusat pemerintahan zaman Belanda itu ada di daerah Wonokromo. Dengan kata lain, warga Wonokromo yang mendapat bagian pekarangan, kemudian memindahkan rumahnya di kampung Karang Rejo. ”Kemudian kampung sedikit demi sedikit menjadi ramai. Masuk zaman revolusi itulah namanya menjadi Karangrejo,” imbuh Supriyanto. Selain pekarangan dan sawah, kampung tersebut juga memiliki daerah barongan, yaitu rumpun bambu yang menjadi ciri khas daerah sepanjang aliran sungai. Di antara Kali Surabaya di titik Gunungsari hingga ke Wonokromo, terdapat kali kecil yang melintas di wilayah Karangrejo. Kali kecil itu disebut Kalimir. Menurut Kaliyah, 68, warga Karang Rejo yang mengaku sebagai keturunan Lurah Karangrejo di tahun 1950-an, Kalimir ini memiliki lebar 4 meter. ”Dulunya digunakan tempat pembuangan limbah orang. Tapi, karena belum banyak penduduknya, airnya masih mengalir dan masih banyak anak kecil yang mandi dan mencari ikan di Kalimir itu,” ungkap Kaliyah. Tapi kini, kondisi Kalimir telah berbeda jauh. Lebarnya hanya sekitar dua meter dan telah menjadi kali dengan air yang berwarna hitam. Menurut Kaliyah, hal itu karena desakan dari banyaknya warga yang datang di daerah tersebut. Bahkan di tahun 1960-an, ada orang-orang baru yang tinggal di daerah itu dengan datang berbondong-bondong seperti dimobilisasi. Mereka kemudian membangun rumah dan ikut mengolah tanah. Tapi, lama kelamaan karena adanya perkembangan kegiatan di Wonokromo, berupa pasar dan terminal, banyak lahan yang dijual dan kemudian menjadi permukiman ramai. Kini kampung Karangrejo pun telah berganti menjadi perkampungan yang ramai dan padat. Bahkan nama kampung Karangrejo pun terbagi menjadi beberapa bagian. Seperti Karangrejo Sawah, yang merupakan kampung Karangrejo yang dulunya adalah tanah persawahan. Karangrejo Balong, Karangrejo Baru, Karangrejo Buntu, Karangrejo Sawah Buntu, Karangrejo Sawah Dalam, dan Karangrejo Timur. Salah satu sudut kampung yang masih menjadi tetenger adalah masih adanya sedikit barongan. rie
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved