Berita Surabaya

Kemendikbud Ingin Pelajaran PMP Kembali Diajarkan di Sekolah-Sekolah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mengusulkan diberikannya kembali pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah-sekolah.

ist/saibumi.com
Ilustrasi Buku PMP jadul. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Syamsul Arifin

SURYA.co.id | SURABAYA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mengusulkan diberikannya kembali pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di sekolah-sekolah. 

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Saiful Rachman, menyatakan sepakat. Kata dia, hal itu bisa memperkuat wawasan kebangsaan para pelajar. 

“Hal ini (PMP) bukan doktrin, melainkan wawasan kebangsaan untuk siswa supaya mengenal nilai Pancasila lebih dalam,” kata Saiful, Selasa, (27/11/2018).

Oleh sebab itu, PMP diharapkan dapat mengajarkan arti kehidupan dan bermasyarakat khususnya siswa di era milenial.

Pancasila, lanjut Saiful, menjadi ‘rem’ untuk siswa milenial untuk memahami bahwa Indonesia adalah negara Pancasila.

“Indonesia kan penuh dinamika, nah, karakter orientasinya nilai budayanya beragam,” terangnya.

Meski demikian, Saiful mengaku belum mengetahui mengetahui rancangan isi mata pelajaran PMP nantinya.

Di Banyuwangi Kini ada Layanan Terpadu untuk TKI. Layanannya Lengkap!

Sementara itu, Dewan Pendidikan Jawa Timur, Isa Ansori mengatakan, Pendidikan moral pancasila secara substantif merupakan pendidikan tentang karakter bangsa. Di dalam kurikulum 2013, sejatinya persoalan moralitas sudah diharapkan bisa diterapkan oleh guru melalui mata pelajarannya masing masing.

“Kata kompetensi inti ada empat di dalam Kurikulum 2013, Mulai dari K1 tentang religiusitas, K2 berkaitan sikap, K3 berkaitan dengan pengetahuan dan K4 berkaitan dengan penerapannya,” ujarnya melalui telepon, Selasa, (27/11/2018).

Kompetensi inti diharapkan mampu memberi ‘ruh’ pelaksanaan pembelajaran dengan memasukkan pilihan 18 jenis karakter yang dikembangkan. 18 jenis karakter itu diantaranya ada jujur, adil, bertanggung jawab dan lainnya.

“Karakter-karakter yang dikembangkan melalui kompetensi inti tadi sejatinya merupakan pengamalan dari nilai nilai Pancasila,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, pria berkacamata ini menilai dengan menghidupkan kembali pelajaran PMP dengan masih tetap memasukkan karakter dalam setiap mapel akan menjadi overlapping dan menambahi beban belajar anak.

“Sehingga menurut saya akan lebih baik memperkuat guru bagaimana mampu menjabarkan pendidikan karakter terhadap mata pelajarannya masing masing,” imbuhnya.

Isa menambahkan yang dibutuhkan saat ini adalah penerapannya.

“Nah sebetulnya kualitas tenaga pendidik memasukkan nilai kedalam pembelajaran itu lebih penting dibanding pelajarannya, karena kalau hanya pelajaran maka hanya akan menjadi pengetahuan tanpa penerapan,” tandasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved