3 Hacker Surabaya Anggota Black Hat Retas Ratusan Website, Pakar Sebut Motifnya Uang

Pakar dari ITS Surabaya menilai, motif peretasan ratusan website oleh 3 mahasiswa Stikom Surabaya adalah untuk mendapat uang. Begini penjelasannya

3 Hacker Surabaya Anggota Black Hat Retas Ratusan Website, Pakar Sebut Motifnya Uang
warta kota
Tiga hacker yang juga mahasiswa Surabaya yang menjebol 600 situs perusahaan dan pemerintahan di 44 negara, termasuk milik Amerika Serikat (AS), diperlihatkan saat rilis di Polda Metro Jaya Jakarta, Selasa (13/3/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Berhasil bobol ratusan server di berbagai negara, membuat tiga mahasiswa Stikom Surabaya harus berhadapan langsung dengan polisi.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, 3 orang tersebut adalah anggota Surabaya Black Hat bernama Katon Primadi Sasmitha (21), Nizar Ananta (21), dan Arnold Triwardhana Panggau (21).

Menurut Pakar Jaringan sekaligus Dosen Teknik Iformatika, Institut Teknologi 10 November Surabaya, Baskoro Adi Pratomo, S.Kom., M.Kom motiv hacker bermacam-macam.

Namun menurut dosen yang sedang S3 di Inggris ini, motif dari pelaku adalah uang. Dari cara kerja hacking yang mereka lakukan, Baskoro menerangkan jika mereka menahan sistem perusahaan, untuk mendapatan tembusan.

"Agar data mereka yang mereka tahan bisa dikembalikan lagi, harus ada tebusan. Kemampuan mereka sebetulnya kreatif dalam mencari uang tapi tidak dengan cara yang benar. Mereka memanfaatkan email saja, jadi mengirim email yang berisi ransonware, nah oleh pihak perusahaan yang tidak tahu bahaya email ini kemudian diakses, jadilah datanya tertahan para hacker," jelasnya.

Baca: Hacker Surabaya yang Ditangkap FBI Sempat Banggakan Orangtua, Pengakuan Tetangga Bikin Kaget

Baca: FBI Buru Tiga Hacker Lain yang Belum Tertangkap, Pakar Informatika Ungkap Kemungkinan Ini

Menurut Baskoro, setiap kampus yang engajarkan mata kuliah sistem informasi atauinformatika di Indonesia punya materii yang berbeda-beda.

Baskoro mencontohkannya di ITS, para dosen juga memberikan pengetahuan soal hacking namun semacam gambaran besar atau sekilas saja.

"Kami mengedukasi mahasiswa yang bisa mereka lakukan dengan hacking itu sejauh apa, kami juga memberi tahu bahwa ini tidak boleh dilakakan tanpa izin, kalau mereka ingin melakukan ini, harus ke server sendiri jangan ke server orang lain karena itu melanggar," terangnya.

Untuk itu, Baskoro menjelaskan bahwa pihak kampus selalu memberikan wadah kepada mahasiswa di kompetisi hacking. Di sini mahasiswa dapat menyalurkan kreativitas mereka tanpa harus merusak server orang atau perusahaan tertentu.

"Di sini mereka bisa leluasa melakukan kreasi sesuai yang mereka kehendaki," tambahnya.

Menurut pengalaman Baskoro, Oranisasi Black Hat sebenarnya ada di mana-mana. Salah satunya di Inggris tepatnya menempuh pendidikan saat ini.

"Saya pernah hadir dalam diskusi Black Hat, mereka membicarakan teknik tertentu. Para pembicaranya menjelaskan hal-hal baru yang mereka lakukan, misalnya terkait cela-cela keamanan baru di komuter. Salah satunya wifi, mereka bisa menyadap informasi apa saja yang mereka kirim lewat sambungan ini juga bluethoot, Sehingga kita bisa waspada," terangnya.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved