Berita Gresik
VIDEO - Andri, Tukang Pijat Tuna Netra di Gresik Sudah Kebal Dibully
Andri Bagus Sugiarto, tukang pijat tuna netra di Gresik ini sudah kebal dengan beragam bentuk bully. Ini yang dia ceritakan saat ditemui Surya.
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Eben Haezer Panca
Andri Bagus Sugiarto (25) adalah bukti bahwa di masyarakat masih ada sikap diskriminatif terhadap para penyandang cacat. Namun respon pria penyandang tuna netra ini terhadap sikap diskriminatif masyarakat, sekaligus menjadi bukti bahwa seorang penyandang cacat pun berhak untuk memperjuangkan penghidupan yang lebih baik dengan daya dan upayanya sendiri.
SURYA.co.id | GRESIK - Andri adalah seorang tukang pijat tuna netra yang sempat menjadi obyek perudungan (bullying) di sebuah grup Facebook.
Cerita tentang perudungan kemudian ramai dibicarakan setelah seorang membernya mengeluhkan hal tersebut dan menunjukkan pembelaannya terhadap Andri.
Andri bukannya tidak tahu bahwa dirinya beberapa kali dirudung di grup tersebut. Walau demikian, suami Hanim Muzayanah (27) ini tidak marah ataupun minder.
Saat ditemui Surya di kediamannya, Rabu (22/3/2017), Andri mengatakan telah terbiasa dengan dinamika kehidupan yang selama ini dilaluinya tanpa penglihatan.
Dia kebal terhadap perlakuan yang tidak semestiya dia terima sebagai penyandang tuna netra, yang seharusnya memiliki hak untuk hidup layak seperti orang kebanyakan.
Bahkan, dia pun bisa memaklumi kalau ada orang yang menyepelekannya karena penampilan fisik.
“Manusiawi kalau saya marah sebenarnya. Tetapi itu dulu, sekarang lama-lama kami terbiasa,” kata Andri. .
“Kami juga sama sekali tidak marah dan tidak pernah menganggap orang itu bersalah. Sebab kami sadar mereka tidak tahu kekurangan. Bagi saya, wajar saja kalau orang yang baru pertama kali melihat kami bertanya-tanya,” sambungnya.
Dari pernikahannya dengan Hanim pada 2013 silam, Andry telah memiliki seorang buah hati bernama Muhammad Wildan Andryan. Bocah itu kini berumur 2 tahun. Untuk menghidupi istri dan anaknya itulah, Andri menjual jasa sebagai tukang pijat panggilan.
Keterampilan memijat itu bukan dimilikinya sejak kecil. Tetapi diperolehnya dari sebuah tempat kursus tuna netra di Surabaya.
Bagi Andri dan Hanim yang menempati rumah berukuran 2x10 meter milik kakak Hanim, keterampilan memijat itulah sumber penghidupan satu-satunya. Jadi, apa yang mereka nikmati sehari-hari, sangat tergantung dari banyak tidaknya pelanggan.
“Awalnya memijat tak memasang tarif. Orang mau ngasih berapa ya Saya terima. Tapi rata-rata orang memberi upah pijat sekitar Rp 40.000 sampai Rp 50.000 ribu,” katanya.
Tetapi Andri sadar bahwa untuk mencari pelanggan tidaklah mudah. Dia pun berinisiatif mempromosikan jasa pijatnya melalui sebuah group Facebook yang di dalamnya beranggotakan ribuan warga Gresik.
Untuk mengakses group Facebook tersebut, Andri memanfaatkan ponsel Android. Di ponsel itu, diaktifkannya fitur disability talk yang memungkinkannya untuk mengunggah postingan tanpa harus melihat ke layar ponsel. Meski buta, terlihat betul bahwa Andri sudah piawai mengoperasikan ponsel tersebut.