Mahasiswa Jepang di Malang Belajar Menari Bali dan Membatik

Mahasiswa Jepang di Malang Belajar Menari Bali dan Membatik

Mahasiswa Jepang di Malang Belajar Menari Bali  dan Membatik
surya/david yohanes
Sejumlah mahasiswa Jepang berpose dengan pakaian tari Bali, Minggu (10/3/2013).
SURYA Online, MALANG - Tubuh Kawana Yuma (19) terus bergerak lincah mengkuti musik etnik Bali yang mengalun. Kakinya menghentak, tangannya ditekuk khas para penari bali.

Sedang matanya yang sipit bergerak dengan cepat ke kanan dan ke kiri. Semetara pakain penari tradisional Bali memperindah perfomanya.

Tarian Yuma memang tidak sempurna. Namun bagi orang yang baru belajar Tari Bali selama tiga pekan, Yuma dianggap sudah berhasil.

Puluhan orang yang menyaksikan tariannya di Padepokan Seni Balekambang STIE MAlangkucecwara memberikan tepuk tangan. Sementara Yuma meneruskan gerakannya dengan mimik serius.

Yuma menari dengan dua orang laki-laki berseragam serupa, Choirul As’Ari dan Basori. Di tengah tarian, Yuma dan temannya berganti panggung dengan tiga orang penari lain.

Mereka penari perempuan dengan pakaian adat Bali berwarna kuning. Di belakang panggung mahasiswa Universitas Kajian Internasional Kanda Jepang ini mengeluh kesakitan.

“Saya sakit perut,” ujarnya dengan Bahasa Indonesia yang masih kaku, Minggu (10/3/2013).

Namun, dengan semangat Yuma kembali naik ke panggung dan meneruskan tarian Baris dan Puspanjali.

Tarian ini ditutup dengan formasi monumental tiga penari perempuan di depan dan tiga penari laki-laki di belakang.

Usai menari Yuma terlihat puas. Wajahnya sumringah serta senyum lebar di bibirnya.

“Ada beberapa gerakan yang salah karena saya sakit,” katanya sambil tertawa.

Kawana Yuma adalah satu di antara 16 Mahasiswa asal Jepang yang belajar bahasa dan bidaya Indonesia di STIE Malangkucecwara.

Di Universitas Kanda, mereka mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Selama di Malang mereka memperdalam kemampuan Bahasa Indonesia yang baru dipelajari selama dua semester di Jepang.

Mereka masing-masing tinggal di rumah penduduk untuk mencegah mereka berkomunikasi dengan Bahasa Jepang.

Para mahasiswa juga mendapatkan nama lokal. Kawana Yuma mendapatkan nama panggilan Dhani.

Besama sembilan orang lainnya Dhani mendapat pelajaran tambahan menari. Tujuh mahasiswa lainnya belajar membatik.

Penulis: David Yohanes
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved