Saatnya Melawan Kemiskinan
Kemiskinan masih membelit Indonesia? Saatnya mengubah mental sebagai pencari kerja dengan menjadi wirausaha!
Editor:
Tri Hatma Ningsih
Oleh: Nur Rohimatul Lailah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Malang
Sejauh mana perguruan tinggi berperan menanggulangi kemiskinan yang masih meruyak di negeri ini? Menjawab hal tersebut, Rabu (20/2/2013) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) Malang menggelar seminar nasional membedah peran perguruan tinggi menanggulangi kemiskinan.
Tiga pemateri dihadirkan, di antaranya Dr Marcellus Rantetana, staf kepresidenan bidang kajian kemiskinan, Setyo Budiantoro, Direktur eksekutif perkumpulan prakarsa, dan Prof Dr Nurhayati SE MS, guru besar ilmu ekonomi Unisma/pengurus Kadin Kota Malang.
Rantetana memaparkan kemiskinan di Indonesia mencapai 29,89 juta, sementara penduduk miskin per September 2011 sebanyak 12,36 persen, terbanyak di pulau Jawa, dominan pada penduduk pedesaan. Kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan terbagi dalam empat kluster, yaitu memberi bantuan sosial terpadu berbasis kewarganegaraan seperti beasiswa kemiskinan, jamkesmas, dan lain-lain. Kluster kedua melalui PNPM, ketiga kredit usaha rakyat (KUR) yang dapat meningkatkan usaha masyarakat, terakhir program rumah sangat murah, kendaraan angkutan umum murah dan program air bersih.
Sementara Budiantoro yang membidik potret kemiskinan dan paradoks kelimpahan mencontohkan kemiskinan multidimensi di Jawa Timur sebesar 69,2 persen ada di pedesaan, perempuan miskin di pedesaan (76,1%), laki-laki miskin di pedesaan (23,9%), perempuan miskin di perkotaan (56,9%), dan laki-laki miskin di perkotaan (43,1%). Bisa disimpulkan, warga negara Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan di dominasi kaum perempuan!
Nurhajati lebih melihat pada tingginya pengangguran terdidik di Indonesia karena mentalitas kewirausahaan yang rendah dan pola pikir sebagai pencari kerja sehingga berimbas pada angka kemiskinan. Ia menawarkan solusi, saatnya pendidikan kewirausahaan diberikan semenjak dini di sekolah dasar (SD) yang tingkat keberhasilannya ditentukan oleh sinergi peserta didik, pengajar, institusi pendidikan, dan pemerintah, orangtua, dan sektor swasta pendukung kewirausahaan.