Rabu, 6 Mei 2026

Surabaya Resmi Bentuk Dewan Pendidikan Baru, Soroti Gadget dan Gen Alpha

Surabaya membentuk Dewan Pendidikan baru untuk menghadapi tantangan teknologi dan memperkuat karakter siswa.

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
istimewa
DEWAN PENDIDIKAN - Anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya masa bakti 2026-2030 saat berfoto bersama Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Dewan baru ini, akan fokus memperkuat karakter siswa sekaligus menghadapi tantangan disrupsi teknologi di dunia pendidikan. 
Ringkasan Berita:
  • Pemkot Surabaya memperkenalkan 11 anggota Dewan Pendidikan periode 2026-2030 yang akan fokus pada penguatan karakter siswa dan menghadapi tantangan disrupsi teknologi.
  • Berbagai isu menjadi perhatian, mulai dari kecanduan gawai, perundungan, hingga kesenjangan pola pikir antara orang tua dan generasi digital.
  • Dewan Pendidikan bersama Dindik juga akan mengembangkan dashboard pemetaan masalah pendidikan untuk mendukung kebijakan yang lebih cepat dan tepat sasaran.

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), resmi memperkenalkan 11 anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya masa bakti 2026-2030. Langkah strategis ini diambil, guna memperkuat pondasi pendidikan di Kota Pahlawan, terutama dalam menghadapi tantangan disrupsi teknologi dan degradasi karakter pada generasi muda atau Gen Alpha.

Dalam seremoni yang digelar pada Selasa (05/05/2026), Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya menegaskan bahwa dewan baru ini membawa misi besar untuk menyelaraskan kurikulum akademik dengan penguatan nilai moral siswa. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan pengawasan independen menjadi poin kunci dalam reformasi pendidikan di Surabaya.

Komposisi Ahli Lintas Sektor

Kepala Dindik Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengungkapkan bahwa pemilihan anggota kali ini dilakukan secara ketat. Komposisi dewan mencakup pakar dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi hukum, ahli komunikasi, pakar Teknologi Informasi (IT), hingga praktisi kesehatan.

"Tantangan pendidikan saat ini tidak lagi terbatas pada urusan akademik di dalam kelas. Kita berhadapan dengan isu kompleks seperti perlindungan anak, kesehatan mental pasca-pandemi, hingga urgensi literasi digital yang masif," ujar Febrina.

Menurutnya, keberagaman latar belakang ini akan memastikan setiap kebijakan pendidikan di Surabaya dipandang dari sudut pandang yang komprehensif.

Menghadapi Kesenjangan Digital Gen Alpha

Salah satu fokus utama Dewan Pendidikan periode ini adalah menjembatani mindset gap atau kesenjangan pola pikir antara pendidik/orang tua dengan siswa generasi digital. Dr. Jokhanan Kristiyono, ST., M.Med.Kom., salah satu anggota Dewan Pendidikan Surabaya, menyoroti fenomena Gen Alpha yang terpapar teknologi sejak dini.

Beberapa poin krusial yang akan segera dievaluasi oleh dewan meliputi:

  • Pengaturan Gawai: Penguatan regulasi batas usia penggunaan media sosial di lingkungan sekolah.
  • Literasi Digital: Mengedukasi siswa agar tidak terjebak dalam perundungan siber (cyberbullying) dan konten negatif.
  • Pengawasan Kolektif: Mendorong peran aktif orang tua dalam memantau jejak digital anak.

"Perlu aturan tegas terkait penggunaan gawai di sekolah agar proses belajar tidak terdistraksi. Namun, kami juga tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan teknologi yang ada," jelas Jokhanan.

Dashboard Masalah Pendidikan di 31 Kecamatan

Sebagai terobosan baru, Dewan Pendidikan bersama Dindik Surabaya berencana meluncurkan dashboard pemetaan masalah pendidikan yang mencakup 31 kecamatan di Surabaya. Sistem berbasis data ini akan memetakan kasus-kasus sensitif seperti:

  • Angka anak putus sekolah (ATS).
  • Kasus pernikahan usia dini.
  • Tren pelanggaran lalu lintas oleh siswa di bawah umur.
  • Sebaran kasus perundungan dan kekerasan anak.

Inovasi ini, diharapkan mempermudah Pemkot Surabaya dalam melakukan intervensi kebijakan secara cepat dan tepat sasaran. Keterbukaan data ini, merupakan bentuk transparansi publik dalam menjamin hak pendidikan setiap anak.

Layanan Aduan 112 dan Advokasi

Dewan Pendidikan juga menginstruksikan masyarakat untuk proaktif melaporkan segala bentuk kendala pendidikan melalui layanan darurat Surabaya 112. Layanan ini menjadi garda terdepan dalam menangani kasus kekerasan di lingkungan pendidikan maupun ancaman narkoba yang mengincar pelajar.

"Kami ingin memastikan seluruh anak di Surabaya mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas tanpa terkecuali. Dewan Pendidikan akan terus turun ke lapangan secara rutin," pungkas Jokhanan.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved