Minggu, 12 April 2026

Problematika Pasar Surabaya

Prof. Rossanto: Pasar Tradisional Perlu Revitalisasi dan Transparansi

Harga bahan pokok di Pasar Wonokromo stabil Ramadan 2026, namun aktivitas menurun akibat digitalisasi. Prof. Rossanto dorong revitalisasi

|
Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Adrianus Adhi
istimewa/Dok Pribadi
BAHAN POKOK - Prof. Dr. Rossanto Dwi Handoyo, SE., M.Si., Ph.D., Pakar Ekonomi Universitas Airlangga, menilai stabilnya harga bahan pokok di Pasar Wonokromo menunjukkan distribusi terjaga, namun perubahan pola belanja ke platform digital membuat aktivitas pasar tradisional kian menurun. 

Ringkasan Berita:
  • Harga bahan pokok di Pasar Wonokromo stabil berkat distribusi pemerintah, namun aktivitas jual beli menurun.
  • Digitalisasi belanja dan berkurangnya kelas menengah pasca pandemi menekan daya beli masyarakat.
  • Prof. Rossanto menekankan perlunya revitalisasi pasar tradisional, kebersihan, fasilitas, dan transparansi harga agar kembali diminati

SURYA.co.id, Surabaya - Memasuki puasa hari ke-10 Ramadan 2026, Sabtu (28/2/26) harga bahan pokok (bapok) di Pasar Wonokromo Surabaya terpantau stabil. Namun di sisi lain, aktivitas jual beli di pasar tradisional justru cenderung menurun.

Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. Rossanto Dwi Handoyo, SE., M.Si., Ph.D., menilai stabilnya harga bapok menunjukkan peran pemerintah dalam menjaga pasokan dan distribusi berjalan cukup baik.

“Kalau harga stabil, berarti pemerintah berhasil menjaga pasokan. Apalagi di bulan Ramadan, kebutuhan pasti meningkat. Artinya distribusi dari produsen sampai perlindungan konsumen sudah dijaga,” ujarnya saat diwawancarai Tribun Jatim dan Harian Surya, Sabtu (28/2/2026).

Meski harga relatif aman, Prof. Rossanto menilai penurunan aktivitas di pasar tradisional lebih disebabkan perubahan perilaku konsumen yang kini semakin terbiasa berbelanja secara online.

Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi titik balik percepatan digitalisasi. Masyarakat kini semakin akrab dengan marketplace maupun transaksi melalui media sosial seperti Facebook dan aplikasi pesan instan.

“Sekarang masyarakat sudah terbiasa dengan handphone. Semua serba online. Pola belanja berubah dan ini saya pikir sudah menjadi pola permanen,” tegasnya.

Baca juga: Pasarku Adalah Rumahmu, Tradisi Lapak Pasar Surabaya jadi Hunian dan Korupsi itu Masih Ada

Kemudahan, kepraktisan, serta layanan antar langsung ke rumah membuat sebagian konsumen memilih berbelanja bahan pokok tanpa harus datang ke pasar tradisional.

Daya Beli dan Menyusutnya Kelas Menengah

Selain faktor digitalisasi, Prof. Rossanto juga menyoroti dampak jangka panjang pandemi terhadap struktur ekonomi masyarakat. Ia menyebut pandemi telah menurunkan jumlah kelas menengah di Indonesia.

“Sebelum Covid-19, kelas menengah kita sekitar 59 juta orang. Setelah pandemi turun menjadi sekitar 49 juta. Sampai sekarang belum sepenuhnya pulih,” jelasnya.

Penurunan kelas menengah ini berimbas pada daya beli masyarakat yang belum kembali seperti sebelum pandemi. Pertumbuhan ekonomi nasional yang masih di kisaran lima persen dinilai belum cukup untuk mengakselerasi pemulihan pendapatan masyarakat secara signifikan.

“Kalau ingin mengejar kembali kondisi sebelum Covid-19, pertumbuhan ekonomi harus lebih top lagi agar bisa meng-catch up kelas menengah yang hilang,” tambahnya.

Ia juga menyoroti kelompok usia di atas 40 tahun yang sempat terkena PHK saat pandemi. Kelompok ini dinilai lebih sulit kembali ke pasar kerja, sehingga berdampak pada stabilitas pendapatan rumah tangga.

Pasar Tradisional Perlu Pembenahan

Terkait solusi, Prof. Rossanto menekankan pentingnya pembenahan menyeluruh pasar tradisional, baik dari sisi fisik maupun tata kelola.

Menurutnya, citra pasar tradisional yang identik dengan kumuh dan kotor masih menjadi hambatan utama. Pemerintah daerah perlu melakukan revitalisasi, peningkatan kebersihan, serta penataan fasilitas agar lebih nyaman bagi pembeli.

“Image pasar tradisional yang kumuh dan kotor harus diperbaiki. Fasilitasnya juga perlu dibenahi,” ujarnya.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved