SURYA Kampus
ITS Perkuat Pendanaan Riset dan Skema Kolaborasi untuk Percepat Guru Besar
Salah satu tantangan utama dosen menuju guru besar adalah publikasi ilmiah yang kerap terhambat keterbatasan pendanaan riset
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- ITS memperkuat pendanaan riset dan skema kolaborasi dosen sebagai upaya mendorong percepatan jabatan fungsional hingga guru besar
- Rektor ITS Prof. Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D sebut tantangan utama dosen menuju guru besar adalah publikasi ilmiah yang kerap terhambat keterbatasan pendanaan riset
- ITS alokasikan dana riset internal Rp 83 miliar pada 2026, di luar total pendanaan riset tahun sebelumnya yang mencapai hampir Rp 300 miliar.
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memperkuat pendanaan riset dan skema kolaborasi dosen sebagai upaya mendorong percepatan jabatan fungsional hingga guru besar.
Langkah ini sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto yang menekankan pentingnya percepatan karier dosen demi peningkatan mutu dan kesejahteraan.
Keterbatasan Dana Riset
Rektor ITS Prof. Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., menyatakan salah satu tantangan utama dosen menuju guru besar adalah publikasi ilmiah yang kerap terhambat keterbatasan pendanaan riset.
Untuk itu, ITS mengalokasikan dana riset internal senilai Rp83 miliar pada 2026, di luar total pendanaan riset tahun sebelumnya yang mencapai hampir Rp300 miliar.
“Harapannya tidak ada lagi dosen yang terkendala publikasi karena tidak ada dana riset. Semua dosen kami dorong memiliki publikasi dan produk inovasi,” ujarnya dikonfirmasi SURYA.CO.ID, Kamis (5/2/2026).
Kolaborasi Antar Dosen
Ia menjelaskan, ITS membuka peluang kolaborasi antardosen dalam satu skema riset.
Dengan skema tersebut, dosen tetap bisa menghasilkan beberapa publikasi sekaligus membiayai mahasiswa S2 dan S3, sehingga proses kenaikan jabatan fungsional dapat berjalan lebih cepat.
“Kami izinkan kolaborasi. Kalau tiga dosen bergabung, maka target publikasi bisa tercapai lebih cepat. Ini sekaligus meningkatkan jumlah mahasiswa pascasarjana,” jelasnya.
Saat ini, jumlah guru besar di ITS masih sekitar 20 persen dari total lebih dari 1.000 dosen.
Dorong Percepatan
Bambang mengakui masih ada dosen berusia di atas 50 tahun yang belum mencapai jabatan guru besar, namun ITS terus mendorong percepatan melalui fasilitasi riset, publikasi, dan peningkatan kualifikasi pendidikan dosen ke jenjang S3.
“Kuncinya publikasi. Kalau semua dosen punya riset dan paper, insyaallah percepatan guru besar akan lebih mudah dicapai,” tegasnya.
Kebijakan ITS ini sejalan dengan pernyataan Mendiktisaintek Prof. Brian Yuliarto yang menargetkan dosen dapat mencapai guru besar dalam 21 tahun masa kerja melalui skema 6-7-8.
Menurut Brian, percepatan jabatan fungsional tidak hanya berdampak pada karier dan kesejahteraan dosen, tetapi juga pada peningkatan kualitas dan reputasi perguruan tinggi.
BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS
| Binus Malang Gelar Edukasi Pentingnya Pilih Jurusan Kuliah untuk Kesiapan Dunia Kerja |
|
|---|
| Wamendag Dorong Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Jadi Entrepreneur Global |
|
|---|
| Prodi Tak Relevan akan Ditutup, Pakar Pendidikan Surabaya Soroti Hal Penting Ini |
|
|---|
| Peluncuran Buku Puisi Dosen FKIP Unusa, Tegaskan Peran Seni dalam Pendidikan |
|
|---|
| Guru Besar Pertama Ilkom UPN Veteran Jawa Timur Soroti Literasi Politik Perempuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/dosen-sebagai-upaya-mendorong-percepatan-jabatan-fungsional-hingga-guru-besar.jpg)