Rata-rata Lima Kasus Trauma per Hari, RS Ubaya Ungkap Cara Penanganan Kecelakaan
Jenis cedera yang ditangani tidak hanya luka ringan, tetapi juga trauma kompleks yang mengancam nyawa.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Rata-rata lima kasus ditangani Trauma Center Rumah Sakit Ubaya setiap hari, dengan tingkat keparahan yang beragam, mulai dari sedang hingga berat
- Dokter Trauma Center RS Ubaya, dr Abraham Sebastian Sp.EM, sebut jenis cedera yang ditangani tidak hanya luka ringan, tetapi juga trauma kompleks yang mengancam nyawa
- Seluruh Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada prinsipnya menangani trauma. Namun, yang membedakan trauma center adalah kemampuan menangani seluruh kasus trauma secara paripurna hingga tuntas
SURYA.CO.ID, SURABAYA – Beban penanganan korban kecelakaan lalu lintas masih tergolong tinggi meski angka kejadian kecelakaan secara nasional mengalami penurunan.
Trauma Center Rumah Sakit Ubaya mencatat, rata-rata terdapat sekitar lima kasus trauma yang ditangani setiap hari, dengan tingkat keparahan yang beragam, mulai dari sedang hingga berat.
Dokter Trauma Center RS Ubaya, dr Abraham Sebastian Sp.EM, mengungkapkan bahwa jenis cedera yang ditangani tidak hanya luka ringan, tetapi juga trauma kompleks yang mengancam nyawa.
Baca juga: RS Ubaya Berikan Jaminan Perlindungan Kecelakaan Kerja untuk Ojek Online
“Kasus yang masuk sangat bervariasi, mulai dari cedera otak, cedera wajah berat, patah tulang ekstremitas dan tulang wajah, cedera rongga dada, hingga perdarahan internal di perut akibat robekan hati dan limpa. Kasus ruptur uretra atau cedera saluran kemih juga pernah kami tangani,” ujar dr Abraham, Rabu (14/1/2026).
Kemampuan Tangani Kasus Secara Paripurna
Menurutnya, seluruh Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada prinsipnya menangani trauma.
Namun, yang membedakan trauma center adalah kemampuan menangani seluruh kasus trauma secara paripurna hingga tuntas.
“Trauma center harus siap menangani semua jenis trauma sampai selesai. Itu berarti spesialisnya lengkap, fasilitas penunjangnya lengkap, ruang operasi siap, dan seluruh kebutuhan operasi darurat bisa dipenuhi,” jelasnya.
Ia menambahkan, penanganan pasien trauma di RS Ubaya dilakukan berdasarkan sistem triase atau Australian Triage Scale (ATS), yang menentukan kecepatan respons medis sesuai tingkat kegawatan pasien.
“ATS level 1 harus ditangani dalam waktu nol menit, langsung ditangani dokter karena paling gawat. Level 2 maksimal 10 menit, level 3 maksimal 30 menit, level 4 maksimal 60 menit, dan level 5 maksimal 120 menit. Jadi begitu pasien datang, langsung dinilai tingkat keparahannya,” katanya.
Rujukan Tim Gerak Cepat
Selama ini, lanjut dr Abraham, mayoritas kasus trauma yang ditangani berada pada ATS level 3.
Meski demikian, kasus dengan ATS level 1 juga beberapa kali ditangani, termasuk pasien dengan cedera otak berat dan syok akibat perdarahan internal.
“Rujukan dari Tim Gerak Cepat juga cukup sering. Dari TGC saja bisa 2–3 kasus per hari,” ungkapnya.
Di sisi lain, dr Abraham menyoroti masih rendahnya pemahaman masyarakat terkait pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas.
Kesalahan penanganan awal, menurutnya, dapat memperburuk kondisi korban sebelum tiba di rumah sakit.
| Jelang Idul Adha 2026, Kabupaten Banyuwangi Intensifkan Vaksinasi PMK |
|
|---|
| Sosok Hakim Jenny Tulak yang Vonis Penjara Seumur Hidup Alvi Terdakwa Mutilasi Pacar Jadi 621 Bagian |
|
|---|
| Pesan Terakhir Guru SD Korban Kecelakaan Maut KA Argo Bromo Anggrek, 36 Menit Sebelum Kejadian |
|
|---|
| Perjalanan KA di Daop 9 Jember Tak Terganggu Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek |
|
|---|
| Pemicu Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Diduga Taksi Masuk Rel Perlintasan, Ini Kata Manajemen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tingkat-keparahan-yang-beragam-mulai-dari-sedang-hingga-berat.jpg)