Kamis, 23 April 2026

Mengenal Rico dan Java Anabul Pintar Unit Satwa Polda Jatim, Berjasa Bantu Pencarian Korban Bencana

Polda Jatim memiliki Unit Satwa Ditsamapta Polda Jatim yang disiapkan untuk penunjang operasi hingga penanggulangan bencana

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: irwan sy
Luhur Pambudi/TribunJatim.com
SIAGA BENCANA - Dua satwa anjing pelacak korban bencana jenis Labrador berbulu warna hitam yang dinamai Java, dan anjing jenis Malinois berbulu warna cokelat yang dinamai Rico. Usia mereka masih sepantaran antara 5-6 tahun. Java diasuh oleh Bripda Made Angga, sedangkan Rico diasuh Bripda Siva. 

Ringkasan Berita:
  • Unit Satwa Ditsamapta Polda Jatim disiapkan untuk penunjang operasi dan penanggulangan bencana.
  • Anjing pelacak dilatih mencari korban hidup di bawah timbunan longsor, reruntuhan, atau debu vulkanik.
  • Untuk membantu pelacakan, personel menggunakan tongkat besi untuk membuat lubang biopori guna mengeluarkan aroma tubuh korban yang terjebak di dalam tanah.
  • Tantangan operasi meliputi medan bangunan runtuh yang tidak stabil, cuaca hujan, dan timbunan abu vulkanik tebal yang mengurangi aroma.

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Polda Jatim memiliki Unit Satwa Ditsamapta Polda Jatim yang disiapkan untuk penunjang operasi hingga penanggulangan bencana.

Unit satwa itu berupa beberapa ekor anjing pelacak, seperti anjing jenis Labrador berbulu warna hitam bernama Java, dan anjing jenis Malinois berbulu warna cokelat bernama Rico.

Baca juga: Anjing Pelacak Diterjunkan untuk Deteksi Pembobol Brankas Toko di Tenggilis Mejoyo Surabaya

Usia mereka masih sepantaran antara 5-6 tahun, dan diasuh oleh Bripda Made Angga, sedangkan Rico diasuh Bripda Siva.

Mereka kompak menjadi sebuah tim yang siap senantiasa dilibatkan kapan pun membantu pencarian korban kebencanaan yang terjebak.

Kedua anjing tersebut telah dilatih khusus untuk membantu Tim SAR melacak keberadaan korban bencana, terutama bencana tertimbun tanah longsor, tumpukan debu vulkanik erupsi gunung berapi, hingga reruntuhan bangunan.

"Kami bertugas mencari korban tertimbun tanah longsor. Pada saat berada di gedung runtuh kami mengutamakan cari korban yang masih hidup," ujar Kanitsatwa Ditsamapta Polda Jatim AKP Winarko, pada Rabu (12/11/2025).

Pola Pengasuhan

Setiap melakukan operasi pencarian korban yang hilang terjebak timbunan tanah, Unit Satwa tersebut akan dikerahkan untuk berkeliling menyisir seluruh medan wilayah di mana letak korban diperkirakan berada.

Winarko menjelaskan biasanya personel Polri pengasuh satwa bakal membawa sebuah alat tongkat berbahan besi panjang yang akan dipakai membuat biopori. 

dengan tongkat itu, sebuah lubang pada tanah yang dibuat dengan cara menghunuskan besi panjang tersebut ke tanah sedalam-dalamnya, agar aroma tubuh dari korban yang terjebak dapat diendus oleh Rico dan Java.

"Di situ diperkirakan ada korban jiwa tertimbun, kami membuat titik titik biopori, jadi ada alat besi kami tancap, jadi bau mayat keluar dan bisa ditemukan oleh satwa," katanya.

Namun, seandainya tanpa membuat lubang biopori semacam itu, kemampuan indera penciuman kedua anjing pelacak tersebut mampu melacak keberadaan tubuh korban hampir 10 meter di dalam timbunan tanah.

"Kalau masih baru tanah gembur, 10 meter lebih bisa, kita bantu dengan biopori. Kita bawa besi, kita tancap, aroma keluar," ungkapnya.

Winarko tak menampik, terdapat beberapa karakteristik medan area yang terbilang sulit untuk dilakukan pendeteksi oleh kemampuan indera penciuman anjing Unit Satwa.

Salah satunya, medan timbunan material bekas reruntuhan bangunan pada inside ambruknya gedung bertingkat Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo.

Sumber: Surya
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved