Cerita Para Kiai
Dari Pesantren ke Senayan: Perjalanan KH Muhammad Mursyid Mengabdi untuk Riau
Profil lengkap KH Muhammad Mursyid, kiai kondang Riau dan anggota DPD RI 2024 yang berfokus pada pengembangan pesantren dan pendidikan umat
SURYA.CO.ID, PEKANBARU - Kiai kondang Riau, KH Muhammad Mursyid, lahir di Jakarta pada 4 Juli 1973 dari keluarga dengan tradisi religius yang kuat. Ayahnya berasal dari Martapura, Kalimantan Selatan (Kalsel), sementara ibunya merupakan putri asli Jakarta.
Sejak kecil, ia ditempa dengan nilai-nilai keislaman yang kokoh: disiplin dalam ibadah, hormat kepada guru, serta menjunjung tinggi akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah menamatkan pendidikan dasar, ia melanjutkan studi ke Madrasah Tarbiyatul Mu’alimin Wal Mu’alimat di Jakarta Pusat. Namun, hanya dua tahun ia menempuh pendidikan di sana.
Keinginan untuk memperdalam ilmu agama membawanya ke Pondok Pesantren (Ponpes) Daarul Rahman Jakarta yang diasuh oleh KH Syukron Ma’mun.
Di pesantren itulah karakter kepemimpinan, kedisiplinan, dan jiwa pengabdiannya mulai terasah. Ia mengikuti jejak sang kakak yang lebih dahulu belajar di sana, sementara adik dan saudara perempuannya juga mengenyam pendidikan agama di lembaga yang sama.
Lingkungan pesantren membentuknya menjadi pribadi sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Selepas menyelesaikan pendidikan, atas arahan gurunya, pada 1994 ia ditugaskan mengabdi ke Pekanbaru. Di kota inilah perjalanan dakwahnya semakin luas.
Ia bergabung dengan Ponpes Dar El Hikmah di kawasan Panam, tidak hanya membina santri, tetapi juga aktif mengisi majelis taklim serta kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.
Semangat dakwahnya semakin berkembang ketika ia terlibat aktif dalam Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Wilayah Riau.
Pada 2002–2003, ia dipercaya menjadi bagian dari program Dai Bina Desa yang menjangkau daerah pelosok di Riau, seperti Kuantan Singingi, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.
Ia turun langsung ke desa-desa Talang Mamak, merasakan betul bagaimana masyarakat pedalaman membutuhkan sentuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan.
Hingga kini, hubungan emosional dengan masyarakat binaannya tetap terjaga.
Pengabdiannya di dunia pendidikan berlanjut ketika ia dipercaya melanjutkan kepemimpinan almarhum KH Munasir Jufri di Pondok Pesantren Khairul Ummah.
Awalnya, pesantren ini hanya berdiri satu di Air Molek, Indragiri Hulu. Berkat kerja keras bersama majelis guru serta dukungan pemerintah dan masyarakat, Khairul Ummah berkembang pesat.
Kini telah berdiri Khairul Ummah 2 di Pekanbaru untuk santri putra, Khairul Ummah 3 di Indragiri Hilir, dan tengah dibangun Khairul Ummah 4 di Pekanbaru untuk santri putri.
Meski tidak lagi memimpin operasional secara langsung, ia tetap membina dan mengarahkan visi besar pesantren. Baginya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan formal, melainkan kawah candradimuka pembentukan manusia seutuhnya, unggul dalam ilmu, kuat dalam iman dan mulia dalam akhlak.
Ia berharap Ponpes Khairul Ummah benar-benar menjadi tempat lahirnya khairul ummah, umat terbaik sebagaimana disebutkan dalam Alquran.
Menurutnya, manusia terbaik bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, kepedulian sosial, serta keberanian memperjuangkan kebenaran.
Pesantren harus mampu melahirkan generasi yang siap berperan di berbagai bidang: menjadi ulama yang menyejukkan, pemimpin yang adil, teknokrat yang amanah, pengusaha yang jujur, hingga akademisi yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
“Tidak semua orang harus menjadi pejabat,” demikian prinsip yang selalu ia tanamkan. Namun setiap orang harus menjadi yang terbaik di bidangnya.
Pesantren, menurutnya, memiliki tanggung jawab besar membekali santri dengan ilmu agama yang kuat, wawasan kebangsaan, serta keterampilan hidup agar mampu bersaing di era modern tanpa kehilangan jati diri.
Dorongan masyarakat agar dirinya terjun ke dunia politik akhirnya membawanya memilih jalur Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Di Pemilu 2024, ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia mewakili Provinsi Riau.
Di Komite I yang membidangi urusan pemerintahan daerah, ia berupaya menjembatani kepentingan Riau dengan pemerintah pusat serta memperjuangkan program-program strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Baginya, kehadiran seorang kiai di parlemen adalah bagian dari dakwah dalam ruang yang berbeda. Jika di pesantren ia membina generasi, maka di parlemen ia berupaya menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pendidikan, kesejahteraan umat, dan pembangunan daerah.
Ia menyadari dunia pendidikan di Riau masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kualitas guru, sarana prasarana, hingga dukungan anggaran. Karena itu, ia mendorong sinergi antara pemerintah, yayasan, dan masyarakat agar lembaga pendidikan, termasuk pesantren, dapat berkembang secara optimal.
Di setiap kesempatan, ia selalu memohon doa dan dukungan masyarakat. Baginya, seluruh perjalanan hidupnya, dari santri, pendidik hingga wakil rakyat, adalah satu garis perjuangan yang sama: menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi umat.
Ia berharap, melalui pesantren dan perannya di parlemen, dapat ikut melahirkan generasi terbaik yang membawa keberkahan bagi Riau dan Indonesia. (*)
KH Muhammad Mursyid
DPD RI
Provinsi Riau
Ponpes Khairul Ummah
Pendidikan Islam
Cerita Para Kiai
Ramadan 2026
Ramadan 1447 H
Ramadhan
Meaningful
Multiangle
| Sejarah Pondok Gontor Ponorogo: Jejak Pesantren Tegalsari hingga Menjadi PMDG |
|
|---|
| Kisah Inspiratif Perjalanan Hidup Habib Achmad Reza Alatas, 12 Tahun Menuntut Ilmu di Yaman |
|
|---|
| Kisah Kiai Bayanuddin Sudin, Sempat Hidup Bersama Anak Jalanan, Kini Pimpin Pondok Harisul Khairaat |
|
|---|
| Bangun Pesantren dari Nol, Perjuangan KH Khammad Masum Kini Asuh Ponpes di 26 Titik di Semarang |
|
|---|
| Belajar dari Prof Bisri, Anak Kiai Kampung yang Jadi Rektor UB Malang, Gabungkan Agama dan Sains |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/KH-Muhammad-Mursyid.jpg)