Rabu, 10 Juni 2026

Dampak Rupiah Melemah

Pelemahan Rupiah Tak Goyahkan Siantar Top, Ekspor ke AS hingga Timur Tengah Digenjot

Siantar Top hadapi rupiah melemah ke Rp18.000 dengan strategi ekspor dan efisiensi operasional untuk jaga pertumbuhan 2026.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Wiwit Purwanto
Surya.co.id/Sri Handi Lestari
PASAR EKSPOR - Dirut STTP Armin (kiri) bersama Direktur PT STTP Suwanto saat menunjukkan produk baru Siantar Top, saat public expose usai RUPS Tahun buku 2025 di Surabaya, Jumat (5/6/2026).  

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah ke Rp18.000 per dolar berdampak pada kenaikan biaya produksi Siantar Top hingga sekitar 10 persen.
  • STTP mengandalkan efisiensi operasional dan perluasan pasar ekspor untuk menjaga margin dan pertumbuhan.
  • Ekspor diproyeksikan tumbuh dua digit pada 2026 dengan kontribusi saat ini mencapai 18,84 persen dari total penjualan.

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus lebih dari Rp18.000 per dolar mendorong berbagai perusahaan industri untuk menyiapkan strategi adaptif guna menjaga kinerja usaha.

Kondisi ini juga direspons PT Siantar Top Tbk dengan memperkuat pasar ekspor sekaligus melakukan efisiensi operasional agar tetap mampu menjaga pertumbuhan di tengah tekanan biaya produksi.

Perseroan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham STTP itu menilai pengalaman menghadapi gejolak ekonomi sebelumnya, termasuk saat pandemi Covid-19, menjadi modal penting dalam merespons fluktuasi kurs saat ini.

Tekanan Kurs Dorong Efisiensi dan Penyesuaian Biaya

Direktur PT Siantar Top Tbk, Suwanto, mengatakan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi, terutama karena sejumlah bahan baku dan komponen masih bergantung pada impor.

"Pelemahan rupiah memang berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi karena sejumlah bahan baku dan komponen pendukung masih bergantung pada impor," kata Suwanto saat public expose usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jumat (5/6/2026) di Surabaya.

Baca juga: DPR Ingatkan Badai PHK Bisa Menjalar ke Desa akibat Pelemahan Rupiah

Ia menjelaskan, kenaikan kurs dolar juga turut memicu peningkatan harga minyak, bahan kemasan, hingga biaya distribusi yang berimbas pada seluruh struktur biaya perusahaan.

“Ketika dolar naik, otomatis biaya bahan baku ikut meningkat. Packaging naik, ongkos logistik naik, sehingga seluruh struktur biaya ikut terdorong. Kami terus mengevaluasi situasi dan berupaya menahan kenaikan harga produk selama masih memungkinkan,” jelasnya.

Menurutnya, kenaikan biaya akibat pelemahan kurs saat ini telah mendekati 10 persen. Meski demikian, perusahaan tetap berupaya menjaga margin keuntungan melalui efisiensi dan optimalisasi rantai pasok.

Sejumlah strategi yang dijalankan antara lain memperluas jaringan distribusi, meningkatkan kapasitas muatan pengiriman untuk menekan biaya logistik, serta mencari sumber bahan baku yang lebih kompetitif dari kawasan ASEAN.

“Kalau masih bisa kami tahan, harga tidak akan dinaikkan. Namun apabila tekanan biaya semakin besar, tentu penyesuaian akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan daya beli konsumen,” lanjutnya.

Baca juga: Alasan Menkeu Purabaya Tak Panik Meski Rupiah Melemah hingga Rp 18.000 Per Dolar: Masih Terkendali

Ekspor Jadi Motor Pertumbuhan di Tengah Tekanan Global

Di sisi lain, Direktur Utama PT Siantar Top Tbk, Armin, menilai pelemahan rupiah justru membuka peluang lebih besar di pasar internasional karena membuat produk lebih kompetitif.

Menurutnya, kondisi ini memberikan dorongan positif bagi ekspansi ekspor ke sejumlah wilayah seperti Timur Tengah, Asia, Kanada, hingga Amerika Serikat.

“Pelemahan rupiah dinilai membuat produk lebih kompetitif di pasar internasional, terutama di kawasan Timur Tengah, Asia, Kanada, dan Amerika Serikat,” tambah Armin.

Perusahaan pun optimistis kinerja ekspor dapat tumbuh dua digit pada 2026. Hingga Mei 2026, kontribusi ekspor tercatat mencapai 18,84 persen, sementara pasar domestik masih mendominasi sebesar 81,16 persen.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved