Minggu, 17 Mei 2026

Perang Iran

Benarkah China Raup Untung Besar dari Perang Iran Vs AS? Begini Analisis Pengamat dan Intelijen

Laporan intelijen AS menyebut China jadi pihak paling diuntungkan dari perang Iran lewat diplomasi, energi, hingga penjualan senjata.

Tayang:
AFP via Serambinews
UNTUNG - Presiden China Xi Jinping berpidato di depan anggota Komite Sentral Partai Komunis China seusai mengamankan jabatan ketiga di Beijing, Minggu (23/10/2022). Di balik perang Iran Vs AS, pihak China disebut ambil untung besar. 

Ringkasan Berita:
  • Intelijen AS menilai China memanfaatkan perang Iran untuk memperkuat pengaruh global.
  • Beijing disebut aktif memainkan diplomasi dan citra sebagai pendukung perdamaian dunia.
  • China dilaporkan meraup keuntungan di sektor energi dan penjualan persenjataan.
  • Pentagon khawatir stok amunisi AS menipis di tengah meningkatnya rivalitas dengan China.

 

SURYA.co.id – Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ternyata memunculkan dampak geopolitik yang lebih luas dari sekadar perang di Timur Tengah.

Sebuah laporan intelijen rahasia militer Amerika Serikat mengungkap kekhawatiran baru bahwa China justru berhasil memanfaatkan situasi perang untuk memperkuat pengaruh globalnya.

Dokumen intelijen tersebut disusun oleh direktorat intelijen Staf Gabungan militer AS menggunakan kerangka analisis “DIME” yang mencakup diplomasi, informasi, militer, dan ekonomi.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa sejak perang pecah pada 28 Februari, Beijing aktif mengambil berbagai keuntungan strategis dari konflik yang terus memanas.

Para pejabat AS yang mengetahui isi laporan itu menyebut China tidak hanya memantau perkembangan perang Iran, tetapi juga bergerak memperluas pengaruhnya di tengah meningkatnya tekanan terhadap Washington.

Presiden China Xi Jinping yang viral dirumorkan dikudeta pasukannya. Simak profil dan biodatanya.
Presiden China Xi Jinping yang viral dirumorkan dikudeta pasukannya. Simak profil dan biodatanya. (kompas.com)

Di mata intelijen Amerika, Beijing dinilai berhasil memainkan peran diplomatik dengan membangun citra sebagai negara yang mendukung stabilitas dan perdamaian global.

Di saat Amerika Serikat dan Israel terlibat langsung dalam konflik bersenjata, China justru tampil sebagai pihak yang menyerukan dialog dan penyelesaian damai.

Pemerintah China bahkan secara terbuka mengkritik perang Iran dan menyebut konflik tersebut sebagai tindakan ilegal.

Sikap itu dinaknai sejumlah pengamat sebagai bagian dari strategi diplomatik Beijing untuk melemahkan citra Amerika Serikat sebagai penjaga tatanan internasional berbasis aturan.

Pengamat hubungan internasional menilai China tengah berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan dunia yang lebih stabil, diplomatis, dan tidak agresif dibanding pendekatan militer Washington.

“Secara keseluruhan, perang di Iran secara signifikan meningkatkan posisi geopolitik China,” ujar Jacob Stokes, peneliti senior di Center for a New American Security, dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

China Disebut Memanfaatkan Krisis Energi Dunia

Tidak hanya bergerak di jalur diplomasi, Beijing juga disebut mengambil keuntungan ekonomi dari perang Iran, terutama di sektor energi dan perdagangan global.

Ketegangan meningkat tajam setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi lintasan hampir seperlima distribusi minyak dan gas dunia.

Baca juga: Alasan Trump Diduga Siapkan Operasi Militer Paling Brutal, Sinyal Perang AS-Iran Bisa Pecah Lagi?

Penutupan jalur tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar internasional karena berpotensi mengganggu rantai pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved