Minggu, 10 Mei 2026

Perang Iran Israel

Trump Koar-koar Terkait Program Nuklir, Klaim Iran Sudah Menyerah Padahal Masih Baca Proposal

Trump klaim Iran menyerah soal nuklir, tetapi Teheran masih mengkaji proposal AS. Diplomasi panas berubah jadi perang narasi.

Tayang:
Youtube Fox News
NUKLIR - Momen Presiden AS Donald Trump memberikan pidato di hadapan para anggota Knesset saat menghadiri Israel pada Senin (13/10/2025). Trump memberi penryataan mengejutkan terkait nuklir Iran. Ia mengklaim Iran sudah menyerah. 

Ringkasan Berita:
  • Donald Trump mengklaim Iran setuju menghentikan ambisi senjata nuklirnya.
  • Iran membantah sudah sepakat dan menyebut proposal AS masih dikaji.
  • Trump diduga memakai klaim kemenangan sebagai tekanan psikologis diplomatik.
  • Israel tetap skeptis dan menuntut verifikasi nyata program nuklir Iran.

 

SURYA.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan gaya diplomasi khasnya, agresif, penuh tekanan, dan langsung mendeklarasikan kemenangan bahkan sebelum tinta kesepakatan benar-benar mengering.

Pada Rabu (7/5/2026), Trump mengumumkan kepada dunia bahwa Iran disebut telah sepakat untuk menghentikan ambisi senjata nuklirnya.

Pernyataan itu muncul di tengah negosiasi panas antara Washington dan Teheran yang berlangsung intensif sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.

“Iran tidak bisa memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memilikinya,” kata Trump di Gedung Putih, dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

Ia bahkan menyebut Iran telah menerima tuntutan utama AS.

“Mereka (Iran) telah menyetujui hal itu, di antara hal-hal lainnya,” katanya.

Namun hanya beberapa jam setelah klaim tersebut bergema di media internasional, respons dari Teheran justru jauh lebih dingin.

Iran belum mengonfirmasi adanya kesepakatan final dan masih mempelajari proposal satu halaman yang dibawa melalui jalur diplomasi tidak langsung.

Di sinilah muncul jurang besar dalam narasi kedua negara: Washington berbicara seolah perang hampir selesai, sementara Teheran masih sibuk membaca detail kontrak dan menghitung konsekuensi politiknya.

Trump tampaknya sedang mencoba menulis akhir cerita lebih dulu, sedangkan Iran belum tentu mau memainkan naskah yang sama.

Antara Gertakan dan Realitas Meja Perundingan

SERANGAN - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump saat berpidato dalam upacara penganugerahan Medal of Honor di Gedung Putih, Senin (2/3/2026). Trump baru-baru ini mengaku telah menyiapkan serangan dahsyat ke Iran.
SERANGAN - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump saat berpidato dalam upacara penganugerahan Medal of Honor di Gedung Putih, Senin (2/3/2026). Trump baru-baru ini mengaku telah menyiapkan serangan dahsyat ke Iran. (Tangkap layar YouTube Euronews)

Dalam gaya diplomasi Trump, tidak ada ruang untuk keraguan. Ia kerap menggunakan klaim kemenangan sebagai bagian dari strategi negosiasi itu sendiri.

Bagi Trump, mengatakan “Iran sudah setuju” bukan sekadar pernyataan optimisme, melainkan tekanan psikologis agar Teheran merasa dunia internasional sudah telanjur menganggap mereka menyerah.

Strategi ini mirip dengan pendekatan bisnis yang selama ini melekat pada karakter politik Trump: membangun persepsi dominasi lebih dulu agar lawan masuk ke posisi defensif.

Ia juga berkali-kali menegaskan pembicaraan berjalan sangat positif.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved