Jumat, 1 Mei 2026

Reshuffle Kabinet

Imbas Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran 2026, Pengamat Nilai Prabowo Sedang Eksperimen Formasi

Reshuffle Jilid V Prabowo Subianto picu kritik. Benarkah bongkar pasang menteri demi kinerja, atau sekadar menjaga stabilitas koalisi?

Tayang:
tribunnews
RESHUFFLE KABINET - Komisaris Pertamina, Hasan Nasbi, terpantau tiba di Kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Senin (27/4/2026) siang jelang reshuffle kabinet. Bongkar pasang menteri yang dilakukan Prabowo ini menuai sorotan dari pengamat. 

Ringkasan Berita:
  • Reshuffle kelima dalam 1,5 tahun dinilai sebagai pola “trial and error” pemerintahan
  • Pengamat Iqbal Themi soroti risiko gangguan konsistensi kebijakan
  • Dugaan reshuffle jadi alat menjaga keseimbangan koalisi politik
  • Dampak terasa di daerah seperti Jawa Timur, proyek strategis berpotensi melambat

 

SURYA.co.id – April 2026 kembali diwarnai pelantikan wajah-wajah baru di Istana oleh Presiden Prabowo Subianto.

Untuk kelima kalinya dalam 1,5 tahun, reshuffle kabinet kembali terjadi pada Senin (27/4/2026).

Namun, alih-alih disambut optimisme, langkah ini justru memicu pertanyaan publik: siapa yang diuntungkan, dan untuk tujuan apa?

Frekuensi perombakan yang tinggi memunculkan kesan bahwa kabinet bukan lagi instrumen stabilitas pemerintahan, melainkan arena penyesuaian politik yang terus bergerak.

Ketika kursi kementerian berubah menjadi “laboratorium eksperimen”, muncul pertanyaan mendasar, apakah reshuffle ini murni untuk meningkatkan kinerja, atau sekadar strategi bertahan di tengah dinamika koalisi yang semakin cair?

Membedah Logika “Trial and Error”

DILANTIK - Pelantikan Pejabat Negara/Pemerintah oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, di Istana Negara, Senin 27 April 2026.
DILANTIK - Pelantikan Pejabat Negara/Pemerintah oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, di Istana Negara, Senin 27 April 2026. (Youtube/Sekertariat Presiden)

Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif SCL Taktika, Iqbal Themi, menilai pola reshuffle yang berulang menandakan persoalan struktural dalam tubuh pemerintahan.

“Pola bongkar pasang kabinet yang terjadi secara intens dalam waktu singkat ini menegaskan bahwa pemerintah sedang terjebak dalam siklus trial and error dalam membentuk tim kerja. Secara strategis, Presiden terlihat seperti sedang melakukan eksperimen formasi di tengah pertandingan yang krusial,” kata Iqbal Themi dalam keterangan tertulisnya dikutip Rabu (29/4/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

Dalam perspektif tata kelola pemerintahan, logika “trial and error” ini bukan tanpa risiko.

Pergantian yang terlalu cepat membuat pejabat baru belum sempat mengeksekusi kebijakan secara optimal, sementara pejabat lama meninggalkan program yang belum tuntas.

“Frekuensi kocok ulang kabinet ini membuat birokrasi tidak memiliki cukup waktu untuk membangun konsistensi implementasi kebijakan. Dalam konteks ini, negara berisiko mengalami gangguan pada policy continuity,” ujarnya.

Baca juga: Daftar 6 Pejabat Hasil Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran dan Jabatan Sebelumnya

Siapa Diuntungkan? Peta Kekuatan di Balik Reshuffle

Di balik setiap pelantikan, selalu ada pertanyaan klasik: apakah menteri yang dipilih merupakan profesional murni atau representasi kepentingan politik?

Fenomena “pergantian gerbong” yang disorot Iqbal mengindikasikan bahwa reshuffle tidak hanya berdampak administratif, tetapi juga politis.

Setiap menteri baru membawa pendekatan, jaringan, dan prioritas berbeda, yang sering kali mencerminkan basis kekuatan di belakangnya.

“Setiap pergantian membawa pendekatan baru yang sering kali tidak sejalan dengan arah sebelumnya, sehingga tim tidak pernah benar-benar berada dalam satu ritme kerja yang konsisten. Di tengah tekanan ekonomi-politik, pemerintah justru dituntut menghadirkan kebijakan yang cepat dan stabil, bukan adaptasi birokrasi yang terus-menerus,” tambahnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved