Jumat, 24 April 2026

Sering Khilaf Saat Live TikTok dan Shopee? Ini Tips dari Ristien Yuendrieni 

Ristien Yuendrieni ingatkan bahaya “hipnotis” live shopping di TikTok dan Shopee

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Wiwit Purwanto
istimewa
TIPS - Pemerhati Sosial Ristien Yuendrieni Bagikan Tips agar Tak Kalap Saat Live Shopping (dokumen Pribadi) 

Ringkasan Berita:
  • Ristien Yuendrieni ingatkan risiko belanja impulsif saat live shopping 
  • Live shopping efektif, tapi bisa memicu keputusan emosional konsumen 
  • Konsumen diminta lebih cermat agar tidak terjebak promo dan tekanan psikologis

SURYA.CO.ID  SURABAYA - Pemerhati sosial Ristien Yuendrieni mengajak masyarakat lebih cermat saat bergabung live shopping di platform Tiktok atau shoppe. Jika tidak waspada, para emak-emak terutama yang hobi shopping bisa terjebak "hipnotis".

Live shopping di e-commerce itu diakui menjadi komunikasi pemasaran masa depan yang efektif. Selain semua bisa mengakses karena cukup lewat smartphone HP, penyajiannya juga menarik.

Ristien yang saat ini menempuh pendidikan S2 Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie itu membedah di balik maraknya fenomena Live Shopping. "Semua harus cermat bergabung di live Tiktok atau Shopee," kata Ristien kepada SURYA.CO.ID Kamis (23/4/2026).

Dia menyebut setiap kali live sang host selalu menyebut, “Keranjang kuningnya ya, Kak… tinggal sedikit!”. Diakui kalimat ini mungkin terdengar biasa.

Namun bagi jutaan pengguna di Indonesia, ucapan itu sudah menjadi semacam mantra. Di layar ponsel, melalui fitur live shopping di TikTok dan Shopee, belanja tidak lagi sekadar memilih barang.

Baca juga: Menkeu Purbaya Live TikTok Bareng Sang Anak Yudha, Penonton Tembus 50 Ribu Orang dan Banjir Saweran

Ristien menyebut bahwa cara belanja live itu menjadi pengalaman yang cepat, riuh, dan terasa dekat seolah-olah kita sedang dilayani oleh teman sendiri.

Pasar Paling Aktif

Pemerhati fenomena sosial asal Kediri itu menyebut bahwa Indonesia disebut sebagai salah satu pasar live commerce paling aktif.

Bagi pelaku usaha, UMKM, live shopping bukan lagi pelengkap melainkan tulang punggung penjualan. Produk yang sebelumnya sulit bersaing di etalase digital, kini bisa laku dalam hitungan menit lewat siaran langsung.

"Namun di balik peluang itu, ada perubahan cara kita berbelanja yang jarang disadari.
Host tampil hangat, komunikatif dan responsif. Nama kita disebut, komentar kita dibaca, bahkan candaan terasa personal. Ini harus dicermati," urainya

Baca juga: Awal Mula Warga Sampang Mampu Swadaya Perbaiki Jalan dari Hasil Live TikTok, Terkumpul Rp 125 Juta

Dalam beberapa detik, batas antara penjual dan pembeli seolah menghilang. Yang terjadi bukan sekadar transaksi, tetapi relasi atau setidaknya sesuatu yang terasa seperti relasi.

Ristien menyebut dalam kajian komunikasi, kedekatan semacam ini dikenal sebagai interaksi parasosial, konsep yang diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl.

Audiens dapat merasa dekat secara emosional dengan figur di media. Meskipun hubungan tersebut tidak benar-benar berlangsung secara timbal balik.

Di sinilah letak persoalannya. Kedekatan dalam live shopping bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Ia dirancang. Platform mendorong interaksi selama mungkin, karena semakin lama penonton bertahan, semakin besar peluang transaksi.

Cermati Kata-kata ini

Tidak heran jika banyak keputusan pembelian terjadi secara spontan. Diskon “khusus live”, stok yang disebut hampir habis, hingga hitungan mundur yang terus diulang menciptakan tekanan halus.

Tanpa sadar, konsumen tidak lagi semata mempertimbangkan kebutuhan, tetapi merespons situasi. Yang dibeli bukan hanya barang, melainkan perasaan takut kehabisan, ingin ikut ramai, atau sekadar tidak ingin tertinggal.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved