Jumat, 29 Mei 2026

Berita Viral

Sosok Prof Hariyono Rektor Universitas Negeri Malang yang Pilih Tidak Ikut Bangun Dapur MBG

Rektor Universita Negeri Malang, Prof Hariyono, menegaskan kampus tak akan kelola dapur MBG dan memilih fokus pada riset. Simak sosoknya.

Tayang:
situs um.ac.id
MENOLAK - Foto Prof. Hariyono Saat Resmi Dilantik Sebagai Rektor Universitas Negeri Malang Periode 2022-2027. Hariyono memilih untuk tidak ikut membangun dapur MBG seperti imbauan BGN. 

Ringkasan Berita:
  • UM memutuskan tidak terlibat langsung mengelola dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Rektor Hariyono menilai pengelolaan SPPG membutuhkan tim profesional dan kemampuan teknis khusus.
  • UM memilih mendukung MBG melalui riset, pengawasan mutu gizi, dan edukasi pangan berbasis akademik.
  • Kampus juga mendorong pemanfaatan pangan lokal untuk mendukung gizi anak dan pencegahan stunting.

 

SURYA.co.id, MALANG – Universitas Negeri Malang memutuskan tidak terlibat langsung dalam pengelolaan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Rektor UM, Hariyono, menilai peran perguruan tinggi lebih tepat diarahkan pada penguatan riset, pengawasan mutu gizi, dan edukasi pangan berbasis akademik dibanding menjadi operator dapur MBG.

Keputusan tersebut disampaikan menyusul harapan Kepala Badan Gizi Nasional agar kampus turut membangun dapur MBG di berbagai daerah.

Namun, UM memilih mengambil posisi sebagai mitra akademik yang mendukung program melalui pendekatan ilmiah dan pengembangan kebijakan berbasis data.

UM Nilai Pengelolaan SPPG Butuh Tim Profesional

Universitas Negeri Malang
Universitas Negeri Malang (Istimewa)

Prof. Hariyono menegaskan pengelolaan SPPG membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan teknis dan operasional yang spesifik.

Karena itu, UM belum mempertimbangkan untuk ikut menjadi pengelola dapur MBG.

“Pertama, kami belum berpikir ke arah sana karena untuk mengurus SPPG dibutuhkan tim yang profesional,” ujar Prof. Hariyono, dikutip SURYA.co.id dari situs resmi UM, Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, perguruan tinggi perlu tetap fokus pada fungsi utama sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi.

Ia menilai operasional layanan pemenuhan gizi dalam skala besar sebaiknya dijalankan pihak yang memang memiliki pengalaman di bidang tersebut.

Perguruan Tinggi Dinilai Lebih Tepat Fokus pada Kajian Ilmiah

UM memandang kontribusi kampus terhadap program MBG akan lebih efektif bila dilakukan melalui riset dan rekomendasi akademik.

Pendekatan itu dinilai mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas program pemenuhan gizi nasional.

“Perguruan tinggi lebih tepat memberikan dukungan dalam bentuk kajian-kajian ilmiah,” tegasnya.

Melalui penelitian dan pengawasan akademik, kampus dinilai dapat membantu memastikan standar higienitas makanan, kecukupan gizi, hingga penyusunan pola pangan yang sesuai dengan kebutuhan anak dan remaja.

“Kajian mengenai sajian sudah higienis atau belum, misalnya. Kemudian, gizinya sesuai kebutuhan anak-anak remaja yang sedang tumbuh atau tidak. Sampai pada kedaulatan pangan, di daerah tertentu disarankan menggunakan sumber pangan lokal,” jelasnya.

Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal untuk Program MBG

KRITERIA BARU MBG - Foto ilustrasi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali diterima SMAN 1 Kedungwaru Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur para Rabu (15/10/2025). Prabowo ingin MBG difokuskan untuk anak kurang gizi.
KRITERIA BARU MBG - Foto ilustrasi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali diterima SMAN 1 Kedungwaru Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur para Rabu (15/10/2025). Prabowo ingin MBG difokuskan untuk anak kurang gizi. (Surya.co.id)
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved