Kamis, 21 Mei 2026

Rupiah Melemah

Bukti Orang Desa Terdampak Melemahnya Rupiah Terhadap Dolar, Petani dan Peternak di Batu Menjerit

Ini lah fakta bahwa melemahnya rupiah terhadap dolar berpengaruh terhadap masyarakat di desa.

Tayang:
Penulis: Dya Ayu | Editor: Musahadah
Kompas.com
RUPIAH MELEMAH - Ilustrasi Uang Segepok. Peternak dan petani di Batu, Jawa Timur terdampak melemahnya rupiah terhadap dolar. 
Ringkasan Berita:
  • Petani dan peternak di Kota Batu, Jawa Timur menjerit akibat dampak melemahnya rupiah terhadap dolar.  
  • Dampak rupiah melemah membuat naiknya harga pakan ternak, bahan baku pertanian impor, hingga naiknya kemasan plastik yang mencapai 100 persen.
  • Hal itu memicu lonjakan biaya produksi di tengah harga hasil panen dan komoditas peternakan yang justru cenderung turun.

 

SURYA.CO.ID - Ini lah fakta bahwa melemahnya rupiah terhadap dolar berpengaruh terhadap masyarakat di desa.

Petani dan peternak di Kota Batu, Jawa Timur menjerit akibat dampak melemahnya rupiah terhadap dolar.  

Penasehat Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto mengatakan dampak rupiah melemah membuat naiknya harga pakan ternak, bahan baku pertanian impor, hingga naiknya kemasan plastik yang mencapai 100 persen.

Alhasil itu memicu lonjakan biaya produksi di tengah harga hasil panen dan komoditas peternakan yang justru cenderung turun.

“Sektor pertanian dan peternakan menjadi bidang yang sangat rentan terhadap fluktuasi kurs dolar karena sebagian besar komponen produksi masih bergantung pada bahan impor. Sekitar 60 persen komponen pakan ternak masih menggunakan bahan impor, sehingga pembayarannya memakai dolar. Ketika nilai dolar naik seperti sekarang, dampaknya langsung terasa pada harga pakan,” kata Ludi Tanarto, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Nasib Gubernur BI Perry Warjiyo Usai Didesak Mundur DPR lalu Dipanggil Prabowo, Imbas Rupiah Melemah

Ludi menjelaskan, dampak yang dirasakan para petani dan peternak di Kota Batu sudah terjadi dalam dua bulan terakhir, bahkan harga pakan ternak sudah mengalami kenaikan sebanyak tiga kali.

“Tiap naik berkisar Rp 200 per kilogram, sehingga total kenaikan mencapai Rp 600 per kilogram. Awalnya harga pakan sekitar Rp 7.400 per kilogram, sekarang sudah menyentuh Rp 8.000 per kilogram atau hampir 10 persen,” jelasnya.

Kenaikan juga terjadi pada bahan plastik untuk kemasan produk pertanian maupun peternakan. Saat ini kenaikan plastik mencapai 100 persen akibat bahan bakunya juga bergantung pada impor.

“Harga botol plastik bahkan naik sampai 100 persen. Memang untuk plastik kemasan naiknya cukup tinggi. Sementara bahan aktif obat pertanian juga masih impor dan transaksinya menggunakan dolar. Ini tentunya terdampak,” ujarnya.

Lantaran kondisi rupiah yang melemah membuat harga sarana produksi pertanian ikut naik. Ia menyebut rata-rata kenaikan produk pertanian kini mencapai sekitar 15 persen.

“Supplier sekarang juga tidak berani memberi jaminan harga untuk satu bulan ke depan. Jadi setiap transaksi harus negosiasi ulang karena harga terus berubah mengikuti fluktuasi kurs,” terangnya.

Sayangnya, tingginya biaya produksi tak diiringi dengan kondisi pasar, yang kini juga tengah lesu. Harga telur, daging, hingga sejumlah hasil panen disebut justru tengah mengalami penurunan harga.

“Kondisi sekarang ini biaya produksi naik, tetapi harga panen tidak ikut naik. Bahkan telur dan beberapa hasil pertanian cenderung turun. Apalagi saat ini masuk bulan Dzulqa’dah atau bulan Selo dalam penanggalan Jawa, saat ini aktivitas hajatan masyarakat cenderung menurun sehingga kebutuhan konsumsi ikut berkurang. Dampaknya harga komoditas ikut melemah,” bebernya.

Pihak petani dan peternak berharap nantinya memasuki bulan Dzulhijjah atau bulan Besar, aktivitas hajatan masyarakat meningkat dan kebutuhan konsumsi akan kembali naik.

Peluang Ekspor

Di bagian lain, melemahnya rupiah justru menjadi peluang bagi industri berbasis ekspor untuk meningkatkan pendapatan.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sektor yang paling diuntungkan dari pelemahan rupiah adalah industri ekspor berbasis komoditas tambang dan perkebunan.

"Iya ada, ada juga. Pada saat rupiah melemah ekspor-ekspor pun pasti akan kembali naik terutama adalah untuk ekspor tambang seperti batubara, nikel, timah, CPO ini pasti akan mengalami keuntungan," tutur Ibrahim saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (19/5/2026).

Kenaikan harga komoditas global membuat nilai ekspor Indonesia berpotensi meningkat. Sayangnya, keuntungan pelaku usaha tidak sebesar yang dibayangkan, karena biaya operasional, seperti transportasi juga ikut melonjak.

Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat lonjakan harga minyak dunia membuat biaya distribusi dan pengiriman barang meningkat.

"Memang diuntungkan untuk tambang, tetapi kan biaya logistik transportasi naik juga karena BBM-nya naik, sehingga untungnya pun juga tidak terlalu besar," ujarnya.

Ia menilai pihak yang justru paling diuntungkan dari kondisi tersebut adalah pemerintah melalui peningkatan penerimaan pajak dari sektor komoditas.

"Yang diuntungkan adalah pemerintah dari pajak. Pajaknya dapat gede karena harganya (komoditas) kan naik," ungkap Ibrahim. Sementara bagi pelaku usaha, kenaikan biaya logistik (transportasi) membuat margin keuntungan menjadi lebih terbatas.

Menurut Ibrahim, kondisi saat ini berbeda dibanding periode perang Rusia-Ukraina ketika harga komoditas energi melonjak tajam akibat embargo negara-negara Barat terhadap Rusia.

"Berbeda pada saat Rusia perang dengan Ukraina, kemudian Amerika-Eropa mengembargo Rusia terhadap minyak, batubara, itu untungnya besar," terangnya.

Ia menilai situasi saat ini lebih kompleks karena dipicu ketegangan di Selat Hormuz yang berdampak langsung terhadap distribusi minyak global.

"Tetapi karena ini masalahnya kan Selat Hormuz. Selat Hormuz ditutup ini berpengaruhnya cukup luar biasa terhadap transportasi minyak sebanyak 20 persen," ucap Ibrahim.

Prabowo Sebut Orang Desa Gak Pakai Dolar

SURAT - Presiden RI Prabowo Subianto saat memberikan sambutan dalam peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Saat kunjungan ke Nganjuk, Prabowo juga membaca surat yang ditulis seorang siswa SD di Sidoarjo bernama Marfen.
SURAT - Presiden RI Prabowo Subianto saat memberikan sambutan dalam peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Saat kunjungan ke Nganjuk, Prabowo juga membaca surat yang ditulis seorang siswa SD di Sidoarjo bernama Marfen. (Surya.co.id)

Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing. 

Hal itu disampaikan Presiden Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) pagi.

Prabowo menegaskan bahwa kondisi pangan dan energi nasional saat ini berada dalam posisi yang aman. 

Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat tidak perlu panik dengan pergerakan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) karena fundamental ekonomi riil di tingkat daerah tetap berjalan baik.

"Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Maha Kuasa," ujar Presiden Prabowo.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul KSP Dudung Jelaskan Maksud Prabowo Soal Warga Desa Tak Pakai Dolar

Jadikan SURYA.co.id preferensi beritamu dengan mengklik tautan ini

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved