Sabtu, 23 Mei 2026

Rupiah Melemah

Rupiah Tembus 15.025 Per Dollar AS, Salah Satu Penyebabnya Harga Minyak Dunia

Nilai tukar rupiah pada perdagangan siang ini tembus Rp 15.025 per dollar AS di pasar spot Bloomberg pukul 13.01 WIB.

Tayang:
Editor: Iksan Fauzi
Tribunnews
Nilai Rupiah Masih Melemah, Ekonomi Indonesia Justru Masuk Daftar 10 Besar Dunia versi IMF 

SURYA.co.id | JAKARTA - Nilai tukar rupiah tembus Rp 15.025 per dollarAmerika Serikat (AS) siang ini. Pemerintah akan mempelajari penyebabnya. 

"Saya pulang dulu, saya coba pelajari, nanti kita lihat," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (2/10).

Darmin Nasution enggan berkomentar.

"Ya sudahlah jangan dikomentari dulu, pokoknya kita cerna dulu semuanya, jangan buru-buru minta komentar," katanya.

Meski begitu, Darmin mengaku pelemahan rupiah saat ini telah menyentuh psikologisnya.

"Tapi psikologisnya itu bukan realita, jadi ini memang kita belum tahu informasi seluruhannya kenapa bergerak ke situ," tutur Darmin.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan siang ini tembus Rp 15.025 per dollar AS di pasar spot Bloomberg pukul 13.01 WIB.

Jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Senin (1/10/2018), rupiah telah melemah 114,5 poin atau 0,77 persen dari Rp 14.910 per dollar AS.

VP Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS selain dipicu oleh penguatan dollar AS terhadap seluruh mata uang dunia pada perdagangan waktu AS tempo hari.

Ini juga diikuti oleh kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS dan harga minyak dunia.

Di sisi lain, isu perang dagang antara AS dan China kembali memanas setelah AS mencapai kesepakatan perdagangan baru dengan Kanada dan Meksiko yang mengisyaratkan pembatasan barang-barang dari China.

"Tren kenaikan harga minyak dunia yang telah mencapai level 75 dollar AS per barel untuk WTI (West Texas Intermediate) dan menembus level 85 dollar AS per barel untuk Brent, berpotensi akan berdampak negatif bagi negara-negara yang notabene net-oil importer karena akan memberikan tekanan pada pelebaran defisit transaksi berjalan," ujar Josua ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (2/10/2018).

Berbagai sentimen global pun mendorong koreksi di pasar keuangan domestik. Sebab, terjadi aliran keluar dari dana asing baik melalui pasar obligasi maupun pasar modal.

Karena sentimen global yang cenderung risk-averse tersebut mendorong koreksi di pasar keuangan domestik yang didorong keluarnya dana asing di pasar obligasi dan pasar saham.

Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) bertenor 10 tahun pun naik sekitar 9 bps menjadi 8,10 persen.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved