Jumat, 24 April 2026

Amalan Islam

Doa dan Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Malam Nisfu Syaban merupakan salah satu momen yang paling dinantikan umat Islam sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Penulis: Arum Puspita | Editor: Arum Puspita
Dok. Surya
MALAM NISFU SYABAN - Ilustrasi bacaan niat dan doa Nisfu Syaban 

Ringkasan Berita:
  • Malam Nisfu Syaban jatuh pada 15 Syaban. Momen ini diyakini sebagai malam penuh rahmat dan ampunan, di mana doa-doa dikabulkan dan amal manusia dicatat untuk setahun ke depan.
  • Umat Islam dianjurkan melakukan salat sunnah mutlak dua rakaat, membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali, serta memperbanyak doa dan istighfar untuk memohon keberkahan.
  • Berdasarkan hadis, Allah SWT memberikan ampunan kepada seluruh hamba-Nya pada malam tersebut

 

SURYA.co.id - Malam Nisfu Syaban merupakan salah satu momen yang paling dinantikan umat Islam sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Malam Nisfu Syaban jatuh pada setiap tanggal 15 bulan Syaban dalam kalender Hijriah.

Pada malam Nisfu Syaban diyakini sebagai malam penuh rahmat, di mana Allah SWT membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya.

Umat Islam di berbagai penjuru dunia, khususnya di Indonesia, biasanya mengisi malam istimewa ini dengan berbagai aktivitas ibadah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta serta memohon keberkahan hidup.

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Peringatan ini bukan sekadar tradisi, melainkan sarana refleksi diri.

Mengutip dari laman resmi Nahdlatul Ulama (NU), malam Nisfu Syaban memiliki keistimewaan sebagai waktu dikabulkannya doa-doa dan pencatatan amal manusia untuk setahun ke depan.

Peringatan Nisfu Syaban dilakukan dengan beragam amalan, seperti membaca Surah Yasin tiga kali, melaksanakan salat sunnah, hingga memperbanyak doa dan istighfar. 

Baca juga: Hukum Qadha Ramadhan Setelah Nisfu Syaban Menurut Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Doa malam Nisfu Syaban 

اَللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ   اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ "يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ" وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ 

Allâhumma yâ dzal manni wa lâ yumannu ‘alaik, yâ dzal jalâli wal ikrâm, yâ dzat thawli wal in‘âm, lâ ilâha illâ anta zhahral lâjîn wa jâral mustajîrîn wa ma’manal khâ’ifîn. Allâhumma in kunta katabtanî ‘indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan aw mahrûman aw muqtarran ‘alayya fir rizqi, famhullâhumma fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî waqtitâra rizqî, waktubnî ‘indaka sa‘îdan marzûqan muwaffaqan lil khairât. Fa innaka qulta wa qawlukal haqqu fî kitâbikal munzal ‘alâ lisâni nabiyyikal mursal, “yamhullâhu mâ yasyâ’u wa yutsbitu, wa ‘indahû ummul kitâb” wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammad wa alâ âlihî wa shahbihî wa sallama, walhamdu lillâhi rabbil ‘alamîn. 

Artinya, “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata–sementara perkataan-Mu adalah benar–di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki. Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah SWT.” 

Tata cara sholat mutlak 

1. Niat 

أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى 

Ushallî sunnatan rak’ataini lillâhi ta’âla 

Artinya: “Saya niat shalat sunnah dua rakaat karena Allah ta’ala.”   

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved