Jumat, 24 April 2026

Dosen Pariwisata Unair Bagikan Tips Wisata Aman meski Cuaca Ekstrem saat Libur Nataru 2025

penting bagi calon wisatawan untuk mempersiapkan diri agar perjalanan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tetap aman dan nyaman.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: irwan sy
IST/Dok Pribadi
PANDUAN BERWISATA - Dosen D4 Destinasi Pariwisata, Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (Unair), Novianto Edi Suharno SSTPar MSi. Ia memberikan sejumlah panduan berisata saat momen Nataru 2025 berdasarkan pengamatan dan analisis terkini. 

SURYA.co.id, SURABAYA – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kerap jadi momen masyarakat untuk berwisata, meski cuaca kini kerap tidak menentu dan cenderung ekstrem.

Menghadapi kondisi seperti ini, penting bagi calon wisatawan untuk mempersiapkan diri agar perjalanan tetap aman dan nyaman.

Baca juga: Libur Nataru 2025 makin Dekat, Auto2000: Jaga Kondisi Mobil untuk Hadapi Macet di Keramaian

Dosen D4 Destinasi Pariwisata, Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (Unair), Novianto Edi Suharno SSTPar MSi, memberikan sejumlah panduan berdasarkan pengamatan dan analisis terkini.

Ia menekankan bahwa keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama dari pada rencana perjalanan.

“Prinsip utamanya ya kita harus mengutamakan keselamatan terlebih dahulu, bukan lagi rencana perjalanan wisatanya. Kemungkinan kita masih juga punya waktu untuk mengunjungi di lain waktu atau lain bulan,” tegasnya. Senin (8/12/25).

Perencanaan Matang

Ia menyarankan agar calon wisatawan terus melakukan pemantauan terhadap informasi dari BMKG, khususnya untuk wilayah destinasi tujuan.

Pemilihan sarana transportasi juga perlu pertimbangan matang, dengan memprioritaskan moda yang relatif aman.

Aspek akomodasi juga perlu perhatian khusus. Ia merekomendasikan untuk memilih tempat menginap dengan kebijakan pembatalan dan pengembalian dana yang fleksibel.

“Bisa kereta api misal, kemudian kalau pakai kendaraan pribadi, disesuaikan jenis kendaraan dengan destinasi, kalau ke gunung jangan pakai sedan. Kemudian pilih pemesanan akomodasi yang fleksibel untuk pembatalan dan refund. Jadi karena cuaca yang sulit diprediksi kita bisa pilih last minute booking saat kondisi cuaca sudah jelas,” jelasnya.

Dalam pemilihan destinasi, destinasi indoor seperti museum, pusat perbelanjaan, galeri seni, atau pertunjukan dalam gedung dinilai lebih resilien.

“Kalau ke alam itu usahakan memiliki kawasan konservasi yang memang sudah memiliki manajemen konservasi, tata kelola yang baik jadi infrastrukturnya itu jelas ada rute evakuasi dan juga punya peringatan dini untuk bencana,” ujarnya.

Pahami Protokol

Tak hanya perencanaan matang, Novianto juga menyebutkan beberapa kiat-kiat jika wisatawan terlanjur terjebak dalam kondisi ekstrem ketika telah tiba di destinasi wisata.

“Pahami titik evakuasi. Hentikan aktivitas jika memang tidak memungkinkan. Misal di gunung ada badai, protokol utamanya hentikan pendakian,” tuturnya.

Tak lupa, ia juga menyampaikan pesan penting kepada seluruh masyarakat luas untuk senantiasa melihat situasi dan selalu mengutamakan keselamatan.

“Jangan kemudian memaksakan aktivitas yang outdoor berdasarkan atas pengalaman lampau karena yang namanya alam dan outdoor itu unpredictable. Kita harus menguatkan literasi kita dalam cuaca dan kita juga harus membangun komunikasi yang aktif terutama dengan destinasi yang akan kita kunjungi,” pungkasnya.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved