Rabu, 8 April 2026

Kreasi Kulit Harimau Jawa Tembus Eropa

Kalau bantuan modal masih belum mendesak. Saya hanya pingin dibantu memasarkan atau pembinaan untuk meningkatkan kualitas

Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Wahjoe Harjanto

SURYA Online, MAGETAN - Orang awam pasti tidak menyangka, kulit Harimau Jawa yang di jemur Deby Catur Setyabudi (26) dipinggir jalan depan rumah orangtuanya, di Dusun Alastuwo, Desa Balegondo, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, adalah hasil batikan.

Karena karya pemuda tamatan STM Jurusan Mesin ini tampak asli kulit Harimau Jawa, binatang yang keberadaannya di dunia ini terancam punah. Bahkan beberapa diantara spesies binatang ini sudah dinyatakan punah.

Kreasi kulit Deby Catur Setyabudi, yang saat ini banyak digemari dan dipesan perusahaan pakaian, sepatu dan mebel di Eropa, motif Macan Tutul atau di Eropa dikenal dengan nama Leopard.

"Saat ini motip Leopard (Macan Tutul), Jaguar dan Kuda Zebra banyak dipesan bule Amerika. Sebelumnya tren Harimau Jawa (Javan tiger) kulit loremg loreng," kata Deby Catur Setyobudi kepada Surya, Kamis (4/9/2014).

Menurut anak bungsu dari pasangan Sirun dan Eny Sri Mawar, selain motif Leopard yang ramai dipesan luar negeri adalah motif kuda zebra untuk sofa dan karpet. Namun untuk motif kuda zebra ini sering terkendala pengadaan kulitnya.

"Untuk motif kuda zebra, sulit mencari bahan kulit yang warna putih. Jadi untuk pesanan motif kuda zebra sulit kalau waktunya di batasi," ujar lajang yang mengaku lebih senang menekuni pengolahan kulit dari pada menekuni disiplin ilmu yang dipunyai.

"Saya belajar kulit di LIK (Lingkungan Industri Kecil) Magetan hanya dua tahun. Beruntungnya saya dipekerjakan langsung dipengolahan kulit, mulai proses awal," kata Deby yang berkat kreatifitasnya bisa membeli motot sport yang berharga hampir seratus juta rupiah.

Deby nekad terjun dengan kreasi kulit motif binatang langka ini berkat mantan bos-nya di LIK Magetan yang memintanya mandiri dengan mengerjakan kulit bermotif Harimau Jawa dan binatang langka lainnya.

"Saya tidak tahu, mantan bos saya yang saat itu mendapat pesanan kulit dengan motif Harimau Jawa (Javan Tiger), memaksa saya mengerjakan dirumah. Katanya saya harus mandiri, saya diminta kerja dirumah dan semua bahan disediakan bos," tutur Deby yang kini kerap pulang balik Magetan - Bali menemui relasinya.

Puas dengan hasil yang dikerjakan Deby, si bos makin giat mencari pembeli dan menghubungi importir yang banyak berada di Bali.

"Alhamdulillah, sekarang setiap bulan bisa 200 - 500 lembar kulit bermotif Harimau Jawa, rutin diminta perusahaan pakaian, tas dan sepatu diluar negeri," katanya sambil cepat-cepat menambahkan hasil sebanyak itu juga tergantung cuaca, karena pengeringan kulit masih mengandalkan matahari.

Meski dikerjakan secara konvensional dan hanya dibantu Tumini, karyawati yang diambil dari tetangganya, Deby yang mengerjakan pesanan importir Bali ini di ruangan mirip garasi disamping rumah orangtuanya berukuran sekitar tiga kali empat meter, mampu memenuhi pesanan relasinya sesuai jadwal yang ditentukan.

"Kalau bahannya kulit kambing atau domba bisa produksi sampai 500 lembar setiap bulan. Sedang untuk bahan dari kulit sapi atau lembu hanya mampu memproses maksimal 200 lembar saja," ujarnya.

Memurut Deby, kulit dengan motif binatang langka ini harganya bisa lipat dua kali dari harga kulit biasa (tanpa motif). Malahan dipasaran Eropa bisa sampai empat kali dari harga di Indonesia.

"Kulit masak tanpa motif per feet (30 centi meter) hanya Rp 17.000. Tapi motif binatang langka jenis harimau, zebra dan jerapah bisa sampai Rp 50.000 per feetnya," terang pemuda murah senyum ini.

Halaman 1/2
Tags
harimau
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved