Idul Adha 2026
Tradisi Manten Sapi di Kecamatan Nguling Pasuruan Dijaga untuk Tarik Wisatawan ke Pasuruan
Esensinya bukan menyamakan sapi dengan manusia, tetapi sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan ternak
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Dyan Rekohadi
Ringkasan Berita:
- Tradisi Manten Sapi yang rutin digelar masyarakat Desa Watestani, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan terus dijaga sebagai warisan budaya lokal
- Tradisi yang digelar setiap Hari Raya Iduladha itu menjadi bagian dari budaya masyarakat petani dan peternak setempat.
- Selain aspek budaya, tradisi Manten Sapi juga dinilai memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya di Kabupaten Pasuruan
SURYA.CO.ID, PASURUAN - Tradisi Manten Sapi yang rutin digelar masyarakat Desa Watestani, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan terus dijaga sebagai warisan budaya lokal yang sarat nilai syukur, gotong royong, dan harapan kemakmuran.
Tradisi yang digelar setiap Hari Raya Iduladha itu menjadi bagian dari budaya masyarakat petani dan peternak setempat.
Dalam prosesi itu, sapi-sapi dihias layaknya pengantin Jawa lengkap dengan kain batik, aksesoris bunga, hingga riasan wajah sebelum diarak keliling desa diiringi musik tradisional dan kesenian rakyat.
Baca juga: Warga Pasuruan Terima Sapi Kurban Presiden Prabowo Seberat 1,2 Ton Melalui Ponpes di Rejoso
Bentuk Rasa Syukur
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan Nurul Puspitaningrum mengatakan, Manten Sapi bukan sekadar hiburan masyarakat, melainkan tradisi yang memiliki makna filosofis mendalam bagi warga desa.
“Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen, kesehatan ternak, dan rezeki yang diberikan Tuhan. Selain itu juga menjadi simbol harapan kesuburan, kemakmuran, dan keberkahan bagi masyarakat petani,” ujar Nurul, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi ruang sosial yang mempererat kebersamaan masyarakat desa.
Warga terlibat mulai dari proses persiapan, menghias sapi, hingga pelaksanaan arak-arakan budaya.
Nurul menegaskan, pelestarian tradisi Manten Sapi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman.
Salah satunya melalui dokumentasi budaya serta melibatkan generasi muda dalam setiap prosesi kegiatan.
“Anak-anak muda harus dikenalkan sejak dini agar mereka memahami nilai budaya lokal dan ikut menjaga keberlangsungannya,” katanya.
Baca juga: Kambing Hias Diarak Keliling Kampung Meriahkan Iduladha di Lumajang
Potensi Daya Tarik Wisata
Selain aspek budaya, tradisi Manten Sapi juga dinilai memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya di Kabupaten Pasuruan, khususnya bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bromo dan wilayah pesisir timur Pasuruan.
Menurut Nurul, kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi agenda budaya tahunan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM, pelaku seni, hingga perajin hiasan tradisional.
“Kalau dikemas dengan baik, tradisi ini bisa menjadi atraksi budaya khas Pasuruan yang memiliki nilai wisata sekaligus berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelestarian tradisi juga harus dibarengi dengan perhatian terhadap kesejahteraan hewan.
Pemerintah mengingatkan agar penggunaan aksesoris dan rangkaian prosesi tidak menimbulkan penderitaan bagi sapi yang diarak.
“Esensinya bukan menyamakan sapi dengan manusia, tetapi sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan ternak yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tradisi-manten-Sapi-Pasuruan.jpg)