Jumat, 8 Mei 2026

Haji 2026

Kisah Kakek 90 Tahun di Lumajang Naik Haji: Dari Merumput ke Tanah Suci

Kisah kakek Sanusi (90), petani Lumajang Jawa Timur yang berangkat haji dari hasil jual sapi setelah menabung bertahun-tahun.

Tayang:
Penulis: Imam Nahwawi | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Imam Nahwawi
JEMAAH HAJI TERTUA: Kakek Sanusi (90) menunjukan surat pendaftaran haji di rumahnya Desa Sumberanyar, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (25/4/2026). Petani ini bisa berangkat haji berkat tabungan rumput dari pelihara sapi. 

Ringkasan Berita:
  • Kakek Sanusi (90) jadi calon jemaah haji tertua di Lumajang Jawa Timur (Jatim) tahun ini.
  • Ia menabung dengan memelihara sapi selama bertahun-tahun.
  • Kisah perjuangannya penuh liku, dari gagal panen hingga ditipu.

SURYA.CO.ID, LUMAJANG – Kisah inspiratif datang dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim). Seorang petani lansia bernama Sanusi (90) akhirnya mendapat panggilan menunaikan ibadah haji tahun 2026.

Sanusi menjadi calon jemaah haji tertua di daerahnya. Perjalanan menuju Tanah Suci itu tidak diraih secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang dan penuh kesabaran.

Tabungan Rumput dari Pelihara Sapi

Untuk mewujudkan impiannya berhaji, Sanusi mengandalkan strategi sederhana: menabung melalui ternak sapi atau yang ia sebut “tabungan rumput”.

Ia memelihara sapi selama 3 tahun hingga berkembang biak, lalu menjualnya untuk biaya pendaftaran haji.

"Hasil dua sapi yang dijual yang saya pelihara selama tiga tahun. Sapi babon sama anaknya," kata Sanusi, Sabtu (25/4/2026).

Dua sapi tersebut laku Rp 20 juta pada 2021, dengan rincian induk Rp 12 juta dan anaknya Rp 8 juta.

Kekurangannya ditutup dari hasil pertanian seperti jual pisang hingga akhirnya terkumpul Rp 25,5 juta untuk mendaftar haji.

  • Mulai pelihara sapi sejak 2018
  • Modal awal Rp 10 juta
  • Hasil penjualan sapi Rp 20 juta
  • Total biaya daftar haji Rp 25,5 juta

Pernah Gagal Panen dan Tertipu

Perjalanan Sanusi tidak selalu mulus. Ia sempat mengandalkan hasil panen jagung dan pekerjaan serabutan, namun hasilnya tidak mencukupi.

Bahkan, ia pernah mengalami kerugian setelah ditipu saat menjual hasil kebun jeruk.

"Tanam jeruk, malah tidak dibayar sama pembelinya, payah. Jadi ketipu, tapi tetap sabar," ujarnya.

Selain itu, Sanusi juga mencari tambahan penghasilan dengan menangkap ikan, namun tetap belum cukup untuk mewujudkan impiannya berhaji.

  • Pernah gagal dari hasil pertanian
  • Ditipu saat jual hasil kebun jeruk
  • Pernah kerja serabutan dan cari ikan
  • Tetap konsisten menabung

Lunas Haji dari Jual Pohon Sengon

Harapan Sanusi semakin terbuka, setelah ia menanam pohon sengon di lahannya pada 2020 sambil tetap memelihara sapi.

5 tahun kemudian, pohon tersebut laku terjual hingga Rp 40 juta dan digunakan untuk melunasi biaya keberangkatan haji.

"Sampai laku Rp 40 juta. Setelah itu dapat panggilan berangkat haji," paparnya.

  • Tanam sengon sejak 2020
  • Laku Rp 40 juta
  • Digunakan untuk pelunasan haji

Bahagia Menjadi Tamu Allah

Kini, di usia yang hampir satu abad, Sanusi mengaku sangat bahagia bisa mewujudkan impian berhaji.

Ia dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 16 Mei 2026, setelah seluruh dokumen seperti paspor dan visa selesai dipersiapkan.

"Gembira seperti sudah ada di Makkah rasanya. Kekurangan lain fikir belakangan," katanya.

  • Seluruh dokumen haji sudah siap
  • Berangkat 16 Mei 2026
  • Perasaan bahagia dan haru
Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved