Rabu, 29 April 2026

Sosok Wildan Purnomo Animator Asal Jombang Tembus Industri Game Jepang

Wildan Purnomo, pria asal Jombang, kini animator di Jepang, terlibat di eFootball dan proyek Edo Museum

Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Wiwit Purwanto
Surya.co.id/Anggit Puji Widodo
INSPIRATIF - Wildan Purnomo (29) pria asal Desa Senden, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Kabupaten Jombang, yang bekerja di Digidelic dalam pengembangan game sepak bola eFootball yang sebelumnya dikenal sebagai Pro Evolution Soccer (PES) 

Ringkasan Berita:
  • Wildan Purnomo dari Jombang jadi animator di Jepang, terlibat proyek eFootball
  • Belajar bahasa Jepang, gagal di Capcom, tapi akhirnya sukses di Digidelic
  • Kisah Wildan tunjukkan ketekunan sejak kecil bisa membawa ke industri global

 

SURYA.CO.ID SURABAYA  - Di Desa Senden, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, mimpi seorang pria tumbuh sederhana.

Bukan di ruang kelas modern atau studio canggih, melainkan di atas kertas karton putih dan goresan pensil seadanya.

Dari situlah, Wildan Purnomo mulai merangkai dunia imajinasinya yang kini membawanya hingga ke industri game di Jepang.

Wildan (29) tak pernah menyangka, kegemarannya menggambar sejak kecil akan menjadi jalan hidupnya. Ia kini bekerja sebagai animator di Jepang, terlibat dalam pengembangan game hingga proyek visual berskala besar. Namun perjalanan menuju titik itu bukan tanpa risiko.

Selepas menempuh pendidikan di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Semarang hingga semester lima, Wildan memilih langkah yang tak biasa. Ia memutuskan berhenti kuliah dan berangkat ke Jepang dengan bekal informasi yang terbatas.

Baca juga: Sosok Adhitya Istanto Alumni Universitas Negeri Malang Sukses Jadi Animator, Pelanggannya dari Eropa

"Awalnya saya tahu dari teman yang belajar bahasa Jepang. Saya coba cari tahu prosesnya, ikut tes, dan akhirnya diterima untuk sekolah bahasa di Tokyo," ucap Wildan saat dikonfirmasi SURYA.CO.ID  pada Rabu (22/4/2026).

Belajar Bahasa Jepang Dan Bekerja Paruh Waktu

Di Negeri Sakura, realitas tak langsung sejalan dengan harapan. Ia harus memulai dari nol belajar bahasa Jepang sambil bekerja paruh waktu.

Targetnya jelas,  mendapatkan sertifikat kemampuan bahasa Jepang level N3 sebagai syarat melanjutkan pendidikan ke bidang yang diinginkan.

Kerja kerasnya terbayar. Setelah meraih sertifikat tersebut melalui program beasiswa, Wildan melanjutkan studi di Yoshida Gakuen College, Sapporo, Hokkaido, mengambil jurusan Komputer Informasi dengan spesialisasi animasi game.

Baca juga: Sosok Shania, Perangi Depresi Remaja Bikin Video Animasi Stop Motion

Lulus dari sana, jalan menuju industri game ternama belum langsung terbuka. Ia sempat mencoba peruntungan melamar ke perusahaan besar seperti Capcom, namun gagal di tahap wawancara karena kendala bahasa.

Kegagalan itu tak membuatnya berhenti. Pada 2022, Wildan diterima di Digidelic, perusahaan kreatif yang terlibat dalam berbagai proyek game dan televisi di Jepang.

Di sana, ia ambil bagian dalam pengembangan gim sepak bola eFootball yang sebelumnya dikenal sebagai Pro Evolution Soccer (PES). Tak hanya itu, ia juga terlibat dalam proyek animasi untuk salah satu museum besar di Tokyo, Edo Museum.

Menurut Wildan, peluang bagi tenaga kerja Indonesia di bidang kreatif di Jepang masih terbuka lebar, terutama di sektor desain dan animasi.

"Kesempatan masih besar. Banyak posisi diisi tenaga asing, seperti dari India dan Malaysia. Asal punya skill dan bahasa, peluangnya ada," ungkapnya melanjutkan.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved