Sabtu, 9 Mei 2026

Perjuangan Abdullah, Mahasiswa Bondowoso yang Sempat Bertahan di Iran saat Konflik Memanas

Abdullah, mahasiswa asal Bondowoso, sempat bertahan di Kota Qom, Iran meski rudal melintas di atasnya.

Tayang:
Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Arum Puspita
Surya.co.id/Sinca Ari Pangistu
PULANG - (kanan) Abdullah (baju biru) dan ayahnya Muhammad Ridho Al Khaf (baju putih) saat menemui kerabat dan teman lama yang menjenguk kedatangannya sepulang dari Iran, Minggu (19/4/2026) lalu. (kiri) Abdullah saat diwawancarai SURYA.CO.ID 

Ringkasan Berita:
  • Abdullah, mahasiswa asal Bondowoso, sempat bertahan di Kota Qom, Iran meski rudal melintas di atasnya. Ia tetap fokus kuliah dan mengira konflik segera usai demi menuntaskan studi S1.
  • Demi memenuhi permintaan ibunya, ia mengikuti repatriasi dengan perjalanan darat 9 jam menuju Azerbaijan saat gencatan senjata, lalu terbang ke Indonesia melalui koordinasi KBRI dan pemerintah daerah.
  • Meski kini pulang untuk menenangkan hati orang tua, Abdullah bertekad kembali ke Iran jika situasi kondusif.

 

SURYA.CO.ID - Di tengah raungan rudal yang terdengar di langit Kota Qom, Iran, Abdullah (25) sempat bergeming.

Mahasiswa semester 6 Imam Khomeyni Specialized University asal Bondowoso, Jawa Timur ini awalnya tak ingin kembali ke Tanah Air. 

Sebab, ia ingin menyelesaikan pendidikan di kampusnya. 

Namun, takdir membawanya kembali ke kampung halaman di Bondowoso pada 16 April 2026 lalu, melalui jalur repatriasi Kementerian Luar Negeri RI. 

Bertahan di Tengah Konflik

Kepada SURYA.CO.ID, Abdullah menceritakan masa-masa bertahan hidup di tengah konflik di Timur Tengah. 

Ia mengaku, aktivitas belajar mengajar di kampusnya sempat terhenti selama sepekan. 

Seiring berjalannya waktu, pembelajaran mulai pulih dari daring kembali ke tatap muka setelah Idulfitri 1447 Hijriyah.

Baca juga: Cerita Abdullah Mahasiswa Bondowoso Pulang Dari Iran, Lewat Jalur Darat Dan Pesawat

"Saya merasa perang ini tidak akan lama, mungkin bertahan 10 hari. Ternyata tidak," jelas Abdullah saat dikonfirmasi, Selasa (21/4/2026).

Selama menetap di Qom, Abdullah menyaksikan langsung kengerian perang meski tak sedahsyat di Teheran.

Ia mengaku setidaknya dua kali melihat rudal melintas di atas kepalanya.

Kendala terbesar bukan hanya ancaman fisik, melainkan terputusnya akses internet internasional yang membuatnya terisolasi dari dunia luar.

"Pendidikan sebenarnya berjalan seperti biasa," ungkapnya, menekankan bahwa semangat belajarnya tak padam meski situasi mencekam.

Jalur Darat Menuju Keamanan

Keputusannya untuk pulang bukan karena rasa takut, melainkan karena suara sang Ibu yang tak lagi bisa ia abaikan.

Setelah komunikasi sempat terputus selama dua minggu, desakan keluarga akhirnya melunakkan hati Abdullah untuk mengisi formulir repatriasi KBRI.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved