Sabtu, 9 Mei 2026

Langkah Antisipatif Kekeringan 2026 di Kabupaten Lamongan, Sektor Pertanian Jadi Fokus

Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen Lamongan dalam menjaga perannya sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Tayang:
Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Titis Jati Permata
Surya.co.id/Hanif Manshuri
POTENSI KEKERINGAN - Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dalam sebuah acara beberapa waktu lalu. Pemerintah Kabupaten Lamongan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan tahun 2026 dengan menyiapkan langkah strategis dan terintegrasi. 

Ringkasan Berita:
  • Pemkab Lamongan siapkan strategi antisipasi kekeringan 2026, dipaparkan Bupati Yuhronur Efendi di Rakornas Kementan.
  • Langkah konkret meliputi optimalisasi irigasi, distribusi pompa air, normalisasi sungai, dan koordinasi lintas sektor.
  • Fenomena El Nino berpotensi sebabkan defisit air dan gagal panen, Lamongan optimistis tetap jadi lumbung pangan nasional.

 

SURYA.co.id LAMONGAN – Pemerintah Kabupaten Lamongan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan tahun 2026 dengan menyiapkan langkah strategis dan terintegrasi.

Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen Lamongan dalam menjaga perannya sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Rakornas di Kementerian Pertanian

Komitmen tersebut ditunjukkan Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi,  dan telah dipaparkan pada saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Antisipasi dan Mitigasi Kemarau 2026 yang digelar Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Jakarta Selatan.

Baca juga: Rumah Warga Lamongan Terbakar, Polisi Selamatkan Emas dan Gabah dari Puing

"Langkah-langkah strategi itu saya paparkan saat Rakornas bersama Kementeri Pertanian  yang langsung dipimpin pak Menteri pada Senin (20/4/2026), " kata Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi kepada SURYA.co.id, Rabu (22/4/2026).

Siapkan Langkah Jaga Produksi Pertanian

Pemkab Lamongan telah menyiapkan langkah konkret guna menjaga keberlangsungan produksi pertanian, memastikan ketersediaan pangan, serta melindungi kesejahteraan masyarakat.

Disampaikan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Baca juga: Babinsa Koramil Turi Lamongan Bareng Warga dan Sungai Watch Bersihkan Sungai Balun

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan yang berdampak pada sektor pertanian serta ketersediaan air.

Fenomena El Nino

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), peluang terjadinya fenomena El Nino pada semester II 2026 mencapai 70 hingga 90 persen.

Dampaknya, sebanyak 64,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal

Sementara 57,2 persen wilayah lainnya akan mengalami musim kemarau lebih panjang dari kondisi biasanya.

Defisit Air Hingga Ancaman Gagal Panen

Situasi ini berpotensi menyebabkan defisit air hingga penurunan luas tambah tanam (LTT) dan ancaman gagal panen, khususnya pada lahan tadah hujan.

Menanggapi hal tersebut, Yuhronur menegaskan Pemkab Lamongan telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif.

“Pemerintah Kabupaten Lamongan berkomitmen mengantisipasi dampak musim kemarau melalui optimalisasi jaringan irigasi, penyediaan sarana pengairan seperti pompa air dan waduk, normalisasi sungai, serta penguatan koordinasi lintas sektor,” ujarnya.

Program Distribusi Pompa Air

Langkah tersebut selaras dengan kebijakan pemerintah pusat yang menyiapkan program distribusi pompa air untuk mendukung pengairan hingga 1 juta hektare lahan pertanian.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved