Selasa, 12 Mei 2026

Tradisi Unik Tuban: Kupatan Sapi demi Tolak Bala Peternak dan Simbol Syukur

Masyarakat Tuban lestarikan tradisi unik kupatan sapi saat Syawal. Ketupat dikalungkan ke leher ternak agar sehat dan terhindar penyakit.

Tayang:
Penulis: Muhammad Nurkholis | Editor: Cak Sur
Surya.co.id/Muhammad Nurkholis
KUPATAN SAPI - Warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, saat menggelar tradisi kupatan sapi dengan doa dan makan bersama pada Kamis (9/4/2026) malam. Tradisi ini digelar sebagai bentuk syukur, sekaligus doa agar ternak sapi tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit. 

Ringkasan Berita:
  • Tradisi kupatan sapi di Tuban, Jawa Timur (Jatim), dilakukan sebagai bentuk syukur dan doa agar ternak terhindar dari penyakit.
  • Ritual ini melibatkan doa bersama, makan kari ayam, hingga pengalungan ketupat khusus di leher sapi.
  • Tradisi ini masih populer di wilayah Semanding, Kerek, Grabagan, hingga Rengel.

 

TUBAN, SURYA.CO.ID - Tradisi unik masih terus dilestarikan masyarakat Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Jatim), saat bulan Syawal, yakni kupatan sapi.

Tradisi ini digelar sebagai bentuk syukur, sekaligus doa agar ternak sapi tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit.

Kupatan sapi merupakan tradisi turun-temurun, yang diyakini warga dapat menjauhkan bala serta mendatangkan rezeki.

Selain itu, tradisi ini juga menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat, karena telah diberi rezeki berupa ternak sapi.

Sejumlah wilayah di Kabupaten Tuban yang masih aktif menjalankan tradisi ini meliputi:

  • Kecamatan Semanding
  • Kecamatan Kerek
  • Kecamatan Grabagan
  • Kecamatan Rengel
  • Dan beberapa daerah sekitarnya

Sejarah dan Makna Kupatan Sapi

Sugeng (40), warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, mengatakan tradisi ini sudah dilakukan sejak lama.

Tradisi tersebut masih terus dijaga oleh masyarakat setempat, khususnya bagi mereka yang memiliki hewan ternak sapi.

"Sudah dilakukan sejak dulu oleh pemilik sapi," ujar Sugeng saat memberikan keterangan kepada SURYA.co.id pada Kamis (9/4/2026) malam.

Dalam pelaksanaannya, warga akan membuat ketupat khusus untuk ritual tersebut. Kemudian, pemilik sapi mengundang tetangga sekitar untuk berkumpul dan berdoa bersama di rumahnya.

Prosesi Makan Bersama dan Pengalungan Ketupat

Ketupat yang telah disiapkan, disajikan dalam wadah besar seperti baskom. Hidangan tersebut, dilengkapi dengan menu lain seperti kari ayam dan berbagai lauk pauk.

Setelah doa bersama, para tamu yang hadir akan menyantap hidangan tersebut secara bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan.

"Kegiatannya ya berdoa bersama di rumah, setelah itu makan bersama sebagai bentuk syukur karena memiliki sapi," imbuh Sugeng menjelaskan rangkaian acara tersebut.

Selain dikonsumsi oleh manusia, terdapat ketupat khusus yang telah didoakan. Ketupat tersebut kemudian dikalungkan di leher sapi, dengan harapan ternak terhindar dari penyakit.

"Nanti kami sisihkan ketupat khusus yang telah didoakan untuk dikalungkan di leher sapi," bebernya.

Sugeng berharap, dengan dilakukannya tradisi kupatan sapi bisa membawa berkah, baik bagi kesehatan ternaknya maupun rezeki yang didapatkan masyarakat.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved