Sejarah Langgar Gantung Blitar: Markas Laskar Diponegoro 1825 yang Luput Perhatian
Langgar Gantung di Blitar, markas Laskar Diponegoro tahun 1825, masih asli dan aktif saat Ramadan. Sayangnya situs sejarah ini minim perhatian.
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Cak Sur
Ringkasan Berita:
- Langgar Gantung Blitar Jawa Timur didirikan tahun 1825 oleh Mbah Irodikoro, pelarian Laskar Pangeran Diponegoro.
- Bangunan musala 90 persen masih asli dengan konstruksi rumah panggung unik untuk menghindari binatang buas.
- Meski berstatus cagar budaya, perawatan situs dilakukan swadaya keluarga tanpa bantuan dana Pemkot Blitar.
SURYA.CO.ID, KOTA BLITAR - Musala An Nur atau yang lebih dikenal sebagai Langgar Gantung di Jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, menjadi saksi bisu penyebaran Islam di wilayah Kota Blitar, Jawa Timur (Jatim).
Didirikan sejak era Perang Jawa (1825-1830) oleh Laskar Pangeran Diponegoro, situs bersejarah ini ironisnya sepi dari perhatian pemerintah meski memiliki nilai historis tinggi.
Hingga kini, Langgar Gantung masih berdiri kokoh dan aktif digunakan sebagai pusat ibadah warga setempat. Terlebih di momen Ramadan saat ini, aktivitas ibadah di musala berusia dua abad tersebut kian hidup.
Ketua Takmir Langgar Gantung, Isman Hadi menuturkan, fungsi musala sebagai tempat ibadah masyarakat Kelurahan Plosokerep tidak pernah surut.
"Kalau kegiatan selama Ramadan di sini, yaitu, salat jemaah tetap, lalu salat tarawih, dan tadarus," kata Isman kepada SURYA.co.id, Selasa (24/2/2026).
Jejak Pelarian Laskar Diponegoro
Isman yang merupakan cucu menantu dari keturunan pendiri musala menjelaskan, Langgar Gantung dibangun oleh Mbah Irodikoro (Abdus Sjakur), seorang anggota pasukan Laskar Pangeran Diponegoro.
Pada masa itu, Mbah Irodikoro melarikan diri dari kejaran Belanda usai Perang Jawa dan bersembunyi di wilayah Plosokerep yang saat itu masih berupa hutan belantara. Ia tidak sendirian, melainkan bersama rekan-rekan seperjuangannya dari Kerajaan Mataram Islam.
Menurut catatan keluarga, terdapat lima tokoh Laskar Diponegoro yang bergerilya dan bersembunyi di wilayah ini:
- Singodongso
- Irodongso
- Irodikoro (Pendiri Langgar)
- Irokerto
- Iromerto
"Kelima orang Laskar Diponegoro itu selain berjuang secara gerilya juga mengembangkan pendidikan agama Islam di wilayah Plosokerep," ungkap Isman.
Irodikoro kemudian menginisiasi pendirian musala sebagai pusat ibadah dan pendidikan agama, yang akhirnya dikenal sebagai Musala An Nur atau Langgar Gantung.
Konstruksi 'Gantung' Anti Binatang Buas
Keunikan utama situs ini terletak pada arsitekturnya. Isman menyebut kondisi bangunan 90 persen masih asli seperti saat pertama kali didirikan. Struktur utamanya terbuat dari kayu dan anyaman bambu dengan desain menyerupai rumah panggung.
Sebutan "Langgar Gantung" muncul karena pondasi bangunan tidak ditanam ke dalam tanah, melainkan diletakkan di atas umpak (batu penyangga), sehingga seolah-olah menggantung.
"Sebenarnya, bangunannya bukan digantung, tapi model bangunan rumah panggung. Pondasinya tidak ditanam di dalam tanah, tapi di atas umpak. Model ini dinamakan gantung," jelasnya.
Desain panggung ini bukan tanpa alasan. Kala itu, lokasi pendirian masih berupa hutan lebat yang dihuni banyak hewan liar. Konstruksi tinggi dibuat untuk menghindari serangan ular maupun binatang buas lainnya saat beribadah.
Hingga detik ini, pilar, gawang pintu, jendela kayu, hingga dinding anyaman bambu masih orisinal. Renovasi hanya dilakukan pada bagian lantai yang lapuk, serta penambahan fasilitas baru seperti tangga serambi dan tempat wudhu.
"Musala ini pernah renovasi sekali untuk mengganti reng, usuk, dan genteng. Plafon juga sempat diganti dari bahan asbes, tapi akhirnya kami ganti lagi dengan model asli dari anyaman bambu," tambah Isman.
Menanti Uluran Tangan Pemerintah
Sayangnya, statusnya yang sarat nilai sejarah belum berbanding lurus dengan dukungan pemerintah. Isman mengaku perawatan Langgar Gantung selama ini murni dilakukan secara swadaya oleh keturunan keluarga Mbah Irodikoro.
Belum ada bantuan konkret dari Pemkot Blitar untuk merawat atau mengembangkan situs ini menjadi destinasi wisata sejarah dan religi, meskipun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) pernah melakukan peninjauan.
"Sampai sekarang belum ada perhatian dari Pemkot. Untuk perawatan, kami sendiri yang mengupayakan," keluhnya.
Isman menceritakan, pihak Disbudpar sempat meminta pengelola membuat proposal bantuan perawatan. Namun, realisasinya nihil hingga hari ini.
"Katanya musala ini ditetapkan sebagai cagar budaya, tapi tidak ada bantuan perawatan. Saya sempat berpikir, jangan-jangan hanya dicatat sebagai cagar budaya, tapi perawatan dilakukan oleh keluarga sendiri," pungkasnya.
Langgar Gantung
Blitar
Kota Blitar
sejarah Langgar Gantung Blitar
sejarah Islam di Kota Blitar
Musala An Nur
Kelurahan Plosokerep
Kecamatan Sananwetan
Meaningful
laskar Diponegoro
Mbah Irodikoro
Multiangle
| DPRD Jatim Dukung Pembatasan Gadget di Sekolah, Tekankan Juknis Harus Aplikatif |
|
|---|
| Kuasa Hukum Samuel Ajukan Eksepsi di Sidang Kasus Perusakan Rumah Nenek Elina di PN Surabaya |
|
|---|
| Persebaya Surabaya vs Madura United, Bonek Tegaskan Kemenangan Harga Mati |
|
|---|
| Penimbunan Solar Bersubsidi di Ujungpangkah Dibongkar Polres Gresik, 9 Ribu Liter Diamankan |
|
|---|
| Sopir Truk Tergeletak Tak Bernyawa di Kompleks Pergudangan Sidoarjo, Luka di Kepala |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Langgar-Gantung-di-Kota-Blitar-Jawa-Timur-01.jpg)