Kamis, 23 April 2026

Kasus HIV/AIDS Di Kediri Stabil, Layanan Dan Edukasi Masih Hadapi Stigmatisasi dan Diskriminasi

Dalam hal ini dinkes menggelar seminar guna mengedukasi masyarakat sekaligus memperkuat layanan kesehatan terkait HIV.

Penulis: Isya Anshori | Editor: Deddy Humana
Tribunnews.com/isya anshori
INFORMASI AIDS - Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri, dr Bambang Triyono Putro saat dikonfirmasi soal penyakit HIV/AIDS, Rabu (3/12/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Kasus AIDS di Kediri mencapai 250 dan termasuk stabil karena tidak jauh berbeda dengan 3-4 tahun terakhir termasuk adanya temuan baru.
  • Dinkes Kediri menekankan pentingnya akses layanan pengobatan dan pemahaman publik terhadap HIV sebagai langkah mencegah penyebaran penyakit.
  • Meski layanan semakin mudah diakses hambatan utama dalam penanganan HIV adalah stigmatisasi dan diskriminasi masyarakat.

 


SURYA.CO.ID, KEDIRI - Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kediri menunjukkan trend stabil dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kediri mencatat, penemuan kasus baru HIV per tahun berada di kisaran 250, angka yang relatif tidak banyak berubah 3-4 tahun terakhir.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kediri, dr Bambang Triyono Putro menyebutkan bahwa hingga November 2025, ada sebanyak 241 kasus baru.

"Kasus HIV di Kabupaten Kediri setiap tahun di angka 250-an, itu kasus baru. Dari dalam 3-4 tahun terakhir, 238, 287, 264 dan sebagainya. Termasuk sampai kemarin kalau dasarnya 241," kata dr Bambang saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/12/2025). 

Menurutnya, angka stabil ini merupakan hasil dari upaya aktif penemuan kasus serta penatalaksanaan yang dilakukan sesuai standar untuk memutus rantai penularan.

Pada momen peringatan Hari AIDS Sedunia 2025 awal Desember ini, Bambang menyebut tema yang diambil adalah Bersama Hadapi Perubahan, Jaga Keberlanjutan Layanan HIV. 

Dalam hal ini dinkes menggelar seminar guna mengedukasi masyarakat sekaligus memperkuat layanan kesehatan terkait HIV.

Acara yang berlangsung, Selasa (2/12/2025) lalu menekankan pada pentingnya akses layanan pengobatan dan pemahaman publik terhadap HIV sebagai langkah utama mencegah penyebaran penyakit. "Ada dari perwakilan mahasiswa, petugas kesehatan dari klinik maupun puskesmas yang ikut," tuturnya. 

Dinkes menyebut bahwa meski trend kasus relatif stabil, angka tersebut mencakup pula temuan dari warga luar daerah yang berobat di fasilitas kesehatan Kabupaten Kediri. Tercatat sekitar 1.000 orang saat ini sedang menjalani pengobatan HIV di Kediri.

Proses penemuan kasus, lanjut Bambang, melibatkan kolaborasi dengan komunitas dan kelompok beresiko tinggi atau populasi kunci seperti wanita pekerja seks (WPS), lelaki seks dengan lelaki (LSL), dan transgender. 

Saat ini, seluruh puskesmas di Kabupaten Kediri telah mampu melakukan layanan testing HIV. Namun untuk memulai pengobatan, layanan baru tersedia di 21 fasilitas, terdiri dari 18 puskesmas dan 3 rumah sakit. "Ini nanti akan terus kita perluas secara bertahap," jelasnya. 

Dinkes menargetkan agar seluruh puskesmas dapat melakukan inisiasi pengobatan dalam beberapa bulan mendatang sehingga akses layanan semakin dekat dengan masyarakat.

Salah satu fokus utama pencegahan saat ini adalah pemeriksaan HIV pada ibu hamil melalui program Program Skrining ANC (Antenatal Care) Terpadu. "Selama ibunya patuh, anaknya dilahirkan negatif (HIV-red)," jelas dr Bambang sambil menekankan efektivitas Program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA).

Hadapi Pemahaman Masyarakat

Ibu hamil yang terdeteksi positif harus segera mendapatkan terapi ARV agar bayi dapat lahir sehat tanpa penularan. 

Meski layanan semakin mudah diakses, dr Bambang menyebut bahwa hambatan utama dalam penanganan HIV adalah stigmatisasi dan diskriminasi.  "Banyak masyarakat masih salah memahami cara penularan HIV/AIDS," bebernya. 

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved