Opini
Peran Shopping Mall dalam Transformasi Ekonomi Kota Surabaya
Mal-mal kini berperan sebagai pusat aktivitas komersial, rekreasi, dan sosial yang memperkuat posisi Surabaya sebagai kota berskala nasional
Oleh : Athaya Maheswari Jumhur, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga
Pusat perbelanjaan memiliki sejarah panjang yang berakar dari ruang-ruang niaga terbuka pada masa Yunani Kuno, seperti agora, serta forum di Romawi. Perkembangannya kemudian terlihat pada pasar beratap seperti Trajan’s Market, yang telah menaungi ratusan kios dan menyerupai konsep pusat perbelanjaan modern.
Memasuki Abad Pertengahan hingga era Renaisans, alun-alun kota dan bazaar tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai ruang sosial dan budaya masyarakat. Pada abad ke-20, konsep pusat belanja tertutup mengalami evolusi signifikan menjadi shopping mall modern.
Transformasi ini terutama dipelopori oleh Victor Gruen di kawasan pinggiran kota Amerika Serikat, dengan menghadirkan pusat perbelanjaan yang terencana, dilengkapi sistem pendingin ruangan, serta mengutamakan kenyamanan pengunjung.
Sejak dekade 1950-an, konsep ini menyebar secara global dan berkembang menjadi mega-mall yang tidak hanya menyediakan kebutuhan konsumsi, tetapi juga berfungsi sebagai destinasi wisata, penggerak investasi, pencipta lapangan kerja, serta indikator pembangunan infrastruktur perkotaan.
Di Surabaya, yang sejak masa kolonial dikenal sebagai kota perdagangan, tradisi ruang niaga terus berlanjut dari aktivitas di pelabuhan dan pasar tradisional menuju hadirnya pusat perbelanjaan modern yang tersebar di kawasan pusat maupun pinggiran kota.
Mal-mal tersebut kini berperan sebagai pusat aktivitas komersial, rekreasi, dan sosial yang memperkuat posisi Surabaya sebagai kota berskala nasional hingga internasional. Beberapa pusat perbelanjaan modern yang menjadi favorit konsumen sekaligus penggerak ekonomi di kota ini antara lain adalah Tunjungan Plaza.
Pasar modern di kawasan Tunjungan sebelum bertransformasi menjadi Tunjungan Plaza pada dasarnya merupakan kelanjutan dari fungsi historis Jalan Tunjungan sebagai pedestrian shopping street elit sejak masa pemerintahan Gemeente pada awal abad ke-20. Koridor ini dipenuhi deretan pertokoan, galeri, restoran, serta rumah usaha bergaya kolonial yang tersusun secara linear sepanjang jalan, dengan penekanan kuat pada pengalaman berbelanja sambil berjalan kaki.
Sebagai jantung perekonomian kota Surabaya, kawasan ini menjadi simbol modernitas awal, sebuah pusat komersial yang mengintegrasikan aktivitas perdagangan, jasa, dan rekreasi dalam satu ruang perkotaan yang hidup. Jalan Tunjungan pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mencerminkan dinamika kehidupan urban masyarakat kolonial dan awal pascakolonial.
Tunjungan Plaza resmi beroperasi pada tanggal 15 Desember 1986 di koridor Jalan Tunjungan, kawasan yang sejak era kolonial telah dikenal sebagai pusat perbelanjaan elit sekaligus jantung perekonomian Kota Surabaya. Keberadaannya menandai kelanjutan fungsi historis kawasan tersebut sebagai ruang niaga utama yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Memasuki era 1990-an, Surabaya mulai membangun citra sebagai kota perdagangan modern. Kehadiran Tunjungan Plaza, disusul Delta Plaza, menjadi landmark baru yang menandai pergeseran karakter kota dari “kota kerja” berbasis industri menuju ruang konsumsi yang lebih dinamis. Transformasi ini turut didukung oleh hadirnya hotel-hotel internasional seperti JW Marriott Hotel Surabaya, kawasan perkantoran, serta pusat perbelanjaan modern di pusat kota.
Secara historis, perubahan wajah Jalan Tunjungan dari pusat perbelanjaan terbuka pada masa kolonial menjadi bangunan mall modern mencerminkan tekanan sekaligus tuntutan perkembangan ekonomi kota metropolitan. Pusat perbelanjaan tidak lagi sekadar tempat transaksi, melainkan juga simbol modernitas dan gaya hidup urban. Sebagai penggerak ekonomi, Tunjungan Plaza memiliki peran ganda.
Pada tingkat mikro, keberadaannya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar melalui peningkatan jumlah UMKM, berkembangnya usaha rumah kos, terbukanya lapangan kerja, serta pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Sementara itu, pada tingkat kota, Tunjungan Plaza menjadi magnet kunjungan yang berkontribusi terhadap pertumbuhan sektor pariwisata dan perhotelan.
Penelitian mengenai ekuitas merek pusat perbelanjaan di Surabaya menunjukkan bahwa Tunjungan Plaza memiliki kekuatan brand equity yang paling dominan, ditandai dengan tingkat top of mind yang tinggi, asosiasi merek yang positif, serta loyalitas konsumen yang kuat. Posisi ini menjadikannya sebagai pusat perbelanjaan yang mampu mempercepat perputaran ekonomi sekaligus menarik investasi baru di sektor perdagangan.
Dalam kerangka sejarah ekonomi kota, Tunjungan Plaza dapat dipandang sebagai kelanjutan tradisi Surabaya sebagai kota dagang, namun dalam bentuk pasar modern berskala besar yang menjadi salah satu pilar utama dalam memperkuat status Surabaya sebagai kota perdagangan.
| Lebaran di Tengah Deru Perang Iran, Idul Fitri dan Harapan Rekonsiliasi Sosial Dunia |
|
|---|
| Mengapa Outlook Fitch Negatif Bisa Berbahaya bagi Industrialisasi Indonesia? |
|
|---|
| Guru Besar UC Surabaya Prof Murpin J Sembiring : Kedaulatan Ekonomi Tidak Boleh Dinegosiasikan |
|
|---|
| Surya Spirit Baru |
|
|---|
| Indonesia Harus Jadi Pemimpin Ekonomi ASEAN: Timor-Leste Mitra Strategis Menuju Kebangkitan Kawasan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Penulis-Athaya-Maheswari-Jumhur-Mahasiswa-Ilmu-SejarahUniversitas-Airlangga.jpg)