Rabu, 29 April 2026

Puluhan Napi Lapas Banyuwangi Menangis Saat Bersimpuh di Kaki Ibunda Saat Hari Ibu

Suasana haru warnai Hari Ibu di Lapas Banyuwangi, Jatim, Puluhan napi menangis memohon ampunan saat prosesi basuh kaki sang ibu.

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Cak Sur
istimewa/Dokumentasi Lapas Kelas IIA Banyuwangi
NAPI MENANGIS - Puluhan narapidana (napi) di Lapas Kelas IIA Banyuwangi,Jawa Timur, menangis bersimpuh di kaki sang ibunda masing-masing dalam peringatan Hari Ibu, Senin (22/12/2025). Pihak lapas memfasilitasi pertemuan antara narapidana dan sang ibunda pada momen tersebut. 

Ringkasan Berita:
  • Lapas Kelas IIA Banyuwangi, Jatim, memfasilitasi puluhan narapidana untuk bertemu dan membasuh kaki ibu mereka dalam peringatan Hari Ibu, Senin (22/12/2025).
  • Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut saat para warga binaan bersimpuh memohon ampunan dan mengungkapkan rasa bakti yang selama ini terhalang tembok.
  • Kalapas Banyuwangi berharap momentum ini menjadi bahan renungan bagi narapidana agar menyesali perbuatan masa lalu dan aktif mengikuti pembinaan.

 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Suasana haru menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi di Jawa Timur (Jatim) pada peringatan Hari Ibu, Senin (22/12/2025). 

Puluhan narapidana (napi) atau warga binaan tak kuasa menahan tangis, saat bersimpuh di kaki ibunda masing-masing dalam prosesi basuh kaki yang difasilitasi pihak Lapas.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini, menghadirkan para ibu dari warga binaan ke dalam Lapas. 

Dengan duduk rapi di kursi yang telah disediakan, para ibu tersebut menerima permohonan maaf dari anak-anak mereka yang tengah menjalani masa hukuman.

Isak Tangis dan Prosesi Basuh Kaki

Di hadapan para ibunda, tersedia baskom berisi air. Satu per satu narapidana duduk bersimpuh, lalu secara perlahan membasuh kaki sang ibu dengan penuh ketelatenan. 

Momentum ini seketika memecahkan suasana, isak tangis dari para narapidana dan ibunda mereka memenuhi area pertemuan.

Salah satu narapidana, ANP (30), mengaku sangat tersentuh dengan kegiatan ini. Baginya, membasuh kaki ibu membangkitkan kenangan mendalam dan memberikan energi baru untuk menjalani masa pidana.

"Selama ini ibu selalu membawa harapan agar saya dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Terima kasih pihak Lapas yang telah mengingatkan akan makna ibu dalam kehidupan saya. Saya akan terus memperbaiki diri dan berbakti," ujar ANP dengan mata berkaca-kaca.

Ruang Bakti di Balik Tembok Lapas

Kalapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menjelaskan bahwa pihaknya sengaja memberikan fasilitas khusus ini, sebagai ruang bagi warga binaan untuk mengungkapkan rasa bakti yang selama ini terhalang oleh tembok tinggi jeruji besi.

Menurut Wayan, peringatan Hari Ibu dengan prosesi basuh kaki ini memiliki makna filosofis yang mendalam bagi proses rehabilitasi para narapidana.

"Kami ingin memupuk kembali rasa kasih sayang dan hormat kepada ibu yang telah luar biasa berjuang merawat mereka. Momentum ini adalah pengingat bahwa sejauh mana pun mereka melangkah salah, doa ibu adalah jalan untuk pulang," tegas Wayan.

Harapan untuk Perubahan Perilaku

Lebih lanjut, Wayan berharap momen emosional ini bisa menjadi bahan renungan bagi seluruh warga binaan. 

Pihak Lapas mendorong, agar para narapidana benar-benar menyesali perbuatan masa lalu yang telah memisahkan mereka dari dekapan keluarga.

“Tentu kami berharap agar mereka benar-benar menyesali perbuatannya, dan memperbaiki perilaku selama masa pidana dengan mengikuti program pembinaan dengan baik,” pungkasnya.

Peringatan Hari Ibu di Lapas Banyuwangi ini ditutup dengan pelukan hangat antara anak dan ibu, meninggalkan kesan mendalam tentang kesempatan kedua dan kekuatan pengampunan.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved