Selasa, 7 April 2026

Tiga Desa Jalin Silaturrahmi Melalui Parade Hias Dokar dan Cikar

Lebaran Ketupat bagi sejumlah warga di Madura menjadi momen paling ditunggu selain Hari Raya Idul Fitri.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Heru Pramono

SURYA Online, BANGKALAN - Lebaran Ketupat bagi sejumlah warga di Madura menjadi momen paling ditunggu selain Hari Raya Idul Fitri. Termasuk warga di tiga desa Parseh, Jaddih, dan Bilaporah Kecamatan Socah. Mereka berkumpul mejalin silaturrahmi dengan menggelar parade hias cikar dan dokar, Kamis (15/8/2013).

Mulai dari Desa Parseh yang menjadi garis start, keberangkatan sedikitnya 50 moda angkutan darat tradisional yang sudah dihias dengan beragam bentuk itu sudah ditunggu warga sejak pukul 06.00 WIB.

Warga yang terdiri dari kaum ibu, bapak, hingga anak-anak berkerumun di pinggir jalan sepanjang kurang lebih 5 km hingga garis finish di Desa Bilaporah. Senda gurau diiringi gelak tawa hinggi bertukar pengalaman di tanah rantau menggambarkan keakraban yang hanya bisa dirasakan setahun sekali, yakni saat Lebaran Ketupat atau Tellasen Topa’.

Obrolan mereka pun akhirnya terhenti ketika parade hias cikar dan dokar mulai nampak dengan kawalan mobil operasional Polsek Socah. Puluhan angkutan tradisional itu memadati sepanjang jalan yang melintasi tiga desa.

Kemacetan yang tak pernah terjadi di hari-hari biasa menjadi pemandangan menyenangkan bagi mereka. Terlebih saat parade hias cikar dan dokar tiba di depan Pasar Jaddih, pusat kerumunan warga. Di lokasi itu pula, panitia parade yang bertajuk Pesta Rakyat itu menyediakan panggung hiburan orkes dangdut sekaligus tempat pemberian hadiah bagi pemenang hias terunik.

”Alhamdulillah, silaturrahmi yang dimulai sejak tahun 1950-an ini bisa terus berlangsung hingga sekarang. Tak ada tujuan lain kecuali lebih mengeratkan tali persaudaraan antar warga,” ungkap sesepuh warga H Mobin (55), asal Desa Jaddih saat membuka acara.

Menurutnya, sudah menjadi keharusan bagi setiap warga untuk terus menjaga kerukunan bernuansa kekeluargaan demi terciptanya generasi tauladan dan berbudi pekerti luhur. ”Salah satunya dengan menggelar acara seperti ini dalam setiap tahun. Semoga di tahun-tahun berikutnya, kita bisa bertemu sapa di tellasen topa’ ini,” tandasnya.

Hoirul (43), warga Desa Parseh mengemukakan, silaturahmi yang dikemas dengan acara hias cikar dan dokar itu sudah menjadi tradisi setiap Lebaran Ketupat. Pria yang sehari-hari bekerja di Surabaya itu mengaku hanya momen seperti Lebaran Ketupat ini yang bisa menyatukan dan mengumpulkan warga dari tiga desa.

”Seakan sudah menjadi ‘kewajiban’ setahun sekali. Saat seperti ini bisa bertemu keluarga, teman-teman semasa kecil, atau warga luar daerah yang sekedar datang untuk melihat acara ini,” ujarnya.

Ketua Panitia Pesta Rakyat Moh Abbas (25), asal Desa Jaddih mengemukakan, ia bersama pemuda lainnya hanya ingin melestarikan apa yang sudah dilakukan oleh warga sejak puluhan tahun yang lalu. ”Karena (silaturahmi) ini positif, kenapa tidak,” jelasnya.

Ia mengatakan, persiapan untuk menggelar hias cikar dan dokar tak semudah membalikkan telapak tangan. Bersama panitia yang telah dibentuk, setidaknya dua bulan sebelumnya sudah melakukan persiapan.

”Kalau tidak mendapatkan sponsor, kami mendapat sumbangan sekedarnya dari warga Desa Jaddih, Parseh, dan Bilaporah. Belum lagi menginventarisir pemilik dokar, cikar, atau pikap yang tampil hingga mengurus perijinan ke para kepala desa dan polsek,” tandasnya.

Sementara itu, Kapolsek Socah AKP Sumono mengatakan, guna mengamankan dan melancarkan arus kendaraan, ia menerjunkan sedikitnya 15 anggota yang teridir dari 10 anggota polsek dan 5 anggota koramil. ”Acara seperti ini pastinya melibatkan massa yang sangat banyak. Kami kami hanya memantau sekaligus mengurai kemacetan,” singkatnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved