Terminal Madyopuro Tidak Representatif
MALANG | SURYA- Kondisi Terminal Madyopuro di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, sangat memprihatinkan. Selain mulai jarang dimanfaatkan mikrolet untuk mencari penumpang, kondisi fisik bangunan seperti gedung perkantoran, jalan, maupun ruang tunggu penumpang juga rusak.
Pantauan Surya di lapangan, mikrolet jalur Madyopuro-Karang Besuki (MK) dan jalur Madyopuro-Mulyorejo (MM) masuk terminal hanya untuk mengambil kartu antrean dan membayar iuran paguyuban Rp 1.000 setiap rit serta retribusi terminal. Setelah itu, para sopir mikrolet itu memilih langsung mencari penumpang di jalanan.
“Kalaupun ada yang mangkal, hanya mikrolet jalur Madyopuro-Arjosari (MA). Namun, jarang sekali dia mendapat penumpang dari dalam terminal,” kata Parman, awak mikrolet jalur MK diiyakan temannya, Sumarto.
Kondisi ini memunculkan wacana pemindahan Terminal Madyopuro ke daeran Cemorokandang. Soal wacana relokasi ini, baik Parman dan Sumarto mengaku belum mendengar. Namun, sejumlah warga Kelurahan Cemrokandang, ditemui terpisah mengaku telah mendengar wacana pemindahan Terminal Madyopuro ini.
“Informasinya, lahan untuk terminal nanti di Dusun Temboro, perbatasan Kota dan Kabupaten Malang,” kata Bambang, warga Cemorokandang, kemarin.
Bambang, Kusnadi, Sutris, dan para tukang ojek mendukung sejumlah pembangunan fisik seperti jalan tol, rumah sakit daerah, dan terminal di wilayahnya. Karena, selain wujud dari pemerataan pembangunan di Malang Timur, kondisi itu juga akan bisa mendongkrak perekonomian masyarakat.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Malang, Drs HM Yusuf MPd, membenarkan adanya pemikiran relokasi terminal Madyopuro ke Cemorokandang. Namun, agar terminal kelak lebih bermanfaat, perlu survei terlebih dahulu ke masyarakat, termasuk keserasian dengan rencana tol Pandaan-Malang.
“Kami beberapa waktu lalu ke Terminal Madyopuro dan memang harus direhabilitasi total. Kalau hanya diperbaiki dengan tambal sulam, saya rasa tidak bisa,” jelas Yusuf.nekn
Berita Terkait