Memprihatinkan, Kejadian Beruntun Warga Tewas Diterkam Harimau
PALEMBANG | SURYA- Para aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyampaikan sikap keprihatinan atas kejadian beruntun yakni warga tewas setelah diterkam harimau sumatera terus berlangsung di kawasan hutan sejumlah wilayah di Sumatera.
Informasi terakhir, satu lagi warga--diduga juga sedang melakukan aktivitas pembalakan liar di hutan--dilaporkan tewas akibat diterkam harimau sumatera liar di hutan Sungai Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan (Sumsel), Rabu (4/3).
Namun, Humas Pemda Kabupaten Muba, Lingga, belum dapat menjelaskan secara detail peristiwa dan korban tewas itu.
Diperkirakan, lokasinya tidak berjauhan dengan tempat beberapa korban lain yang juga tewas akibat terkaman harimau di kawasan hutan wilayah Jambi yang berbatasan dengan daerah di Sumsel itu.
Kejadian beruntun warga tewas diterkam harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di dalam kawasan hutan sejumlah provinsi di Sumatera (Aceh, Jambi, Riau, Sumsel), menurut para aktivis lingkungan hidup, perlu segera diatasi secara komprehensif.
Direktur Eksekutif WALHI Sumsel, Anwar Sadat menanggapi kejadian itu, menilai Pemerintah dalam hal ini Balai Konservasi Sumberdaya Manusia (BKSDA) yang tidak mampu memberi peringatan dini atau early warning kepada masyarakat.
Sadat menduga, justru tidak adanya peringatan dini itu akibat BKSDA sendiri tidak memiliki data akurat mengenai jumlah dan keberadaan satwa harimau di hutan wilayah kerja mereka.
Dia juga menilai, saat ini tempat hidup alami (habitat) harimau liar itu di hutan telah terganggu. "Keberadaan harimau liar itu semakin tersingkir akibat penyempitan ruang hidup, karena aktivitas manusia, seperti perburuan, pemadatan penduduk dan ekspansi industri di sekitar dan masuk ke dalam kawasan hutan," ujar Sadat lagi.
Sebelumnya, aktivis dan pimpinan LSM Forum Harimau Kita Hariyo Tabah Wibisono memperkirakan, selama bentang alam harimau sumatera terus digerus atau dialihfungsikan, jangan harap konflik satwa liar itu dengan manusia di sekitarnya akan mereda."Dan dalam banyak kasus, selalu harimau yang disalahkan," ujar aktivis yang juga peneliti dan pernah bekerja di LSM Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP).
Menurut Hariyo, para pengusaha industri kehutanan yang kawasannya bersentuhan atau bahkan tumpang tindih (overlap) dengan jelajah harimau sumatera, juga harus dibebankan tanggung jawab yang sifatnya mengikat.
Perusahaan harus ikut mengelola harimau yang ada di kawasan tersebut, termasuk dalam hal ini menangani mitigasi konflik sehingga dapat meminimalkan korban manusia maupun satwa liar langka dan dilindungi di dunia itu. XVD/ant/kcm
KOMENTAR