Sabtu, 11 April 2026

Curhat Nelayan Rajungan di Paciran Lamongan : Hasil Tangkapan Terus Menurun

Produksi tangkapan rajungan  nelayan Paciran, Lamongan dari tahun ke tahun mengalami penurunan mencapai 9 sampai 12 persen.

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id/Hanif Manshuri
RAJUNGAN - Nelayan anggota forum komunikasi nelayan rajungan (FORKOM) Lamongan, saat berkumpul dan curhat kendala yang mereka hadapi saat ini, Rabu (13/8/2025). Produksi tangkapan rajungan nelayan Paciran, Lamongan dari tahun ke tahun mengalami penurunan mencapai 9 sampai 12 persen. 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Produksi tangkapan rajungan  nelayan Paciran, Lamongan dari tahun ke tahun mengalami penurunan mencapai 9 sampai 12 persen.

Kondisi ini  membuat para nelayan tangkapan rajungan prihatin. Selain, tangkapannya menurun, jarak tempuh untuk mendapatkan rajungan juga semakin jauh, mencapai 30 sampai 37 mil laut.

"Jauhnya jarak tempuh itu juga  membuat beban operasional meningkat dengan pendapatan relatif sedikit," ujar nelayan anggota Forum Komunikasi Nelayan Rajungan (FORKOM) Lamongan, Rosyid, Rabu (13/8/2025). 

Baca juga: Peringatan Hari Pramuka ke- 64, Kwarcab Lamongan Lakukan Ulang Janji di Pendopo Lokatantra

Diungkapkan, terkait penurunan produksi tangkapan rajungan sejatinya sudah  terasa sejak  7 tahun terahir yang berdampak dengan kesejahteraan masyarakat nelayan.

Kemudian nelayan berusaha memburu ke tempat yang lebih jauh dengan jarak tempuh yang jauh itu diharapkan mendapatkan hasil tangkapan yang lebih.

Namun pada kenyataannya, hasil tangkapan rajungan masih jauh dari harapan. Antara biaya akomodasi dengan hasil tangkapan tak sebanding.

Baca juga: Kisah Perjuangan Nia Ramadhani, Siswi SMA di Bangkalan Rela Jadi Pengepul Rajungan untuk Bantu Ortu

Rata-rata hasil tangkapan semalam hanya 7 kilo, hasil yang jauh jika dibanding  dengan kejayaan sebelumnya  (produksi) yang bisa mencapai 20 kilo per malam.

Sebanyak 1.700 neyalan khusus tangkap rajungan di Lamongan mengaku tidak tahu penyebab menurunnya hasil tangkapan rajungan.

"Nelayan hanya bisa pasrah, ikhtiar melaut lebih jauh juga hasilnya sama saja," gerutu Ahmad, nelayan rajungan.

Meski harga jual rajungan cukup tinggi dan bertahan diangka Rp 75.000 perkilo, namun hasil tangkapan tipis, ini yang membuat nelayan gelisah.

Baca juga: Harga Rajungan Tangkapan Nelayan Lamongan Anjlok, Kini Rp 45.000/Kilogram

Para nelayan tidak mungkin hijrah menangkap ikan jenis lain, karena harus merubah alat tangkap, selain sudah menjadi kebiasaan menangkap rajungan.

Mendapati keluhan nelayan rajungan lantaran tangkapan yang terus menurun, Ketua forum komunikasi nelayan rajungan (FORKOM) Lamongan,  Muchlisin Amar mengatakan,  agar masyarakat nelayan rajungan  mau belajar merawat ekosistem laut.

"Itu wajib hukumnya, program resetocking, karantina rajungan, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan harus tetap dilakukan dan menjadi kesadaran semua nelayan," ungkap Muchlisin.

Kesadaran itu harus ditanamkan dan diaktualisasikan agar tangkapan bisa  berkelanjutan, sesuai dengan program Kementrian Kelautan dan Perikanan bisa diwujudkan  untuk masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Pihaknya sering menggelar acara jagongan dengan para nelayan untuk sharing bersama dan mencari solusi jika nelayan menemui kesulitan.

"Soal kesadaran memelihara ekosistem dan  bukan merusak laut itu sering kita obrolkan," pungkasnya.

BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved