Minggu, 26 April 2026

Penelitian FIKK Unesa : Screen Time Anak Capai 5,9 Jam per Hari, Picu Gangguan Mental Serius

Durasi screen time yang berlebihan pada anak-anak dan remaja, disebut berpotensi besar menimbulkan gangguan kesehatan mental dan fisik. 

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
Istimewa/Humas Humas Unesa
PENELITIAN - Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Nanik Indahwati meneliti dampak screen time pada anak. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Durasi screen time yang berlebihan pada anak-anak dan remaja, disebut berpotensi besar menimbulkan gangguan kesehatan mental dan fisik. 

Fakta tersebut, terungkap dalam hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Nanik Indahwati.

Penelitian yang dilakukan sepanjang tahun 2024 ini, melibatkan 355 siswa tingkat SMP di Surabaya  yang berusia antara 12 hingga 15 tahun.

Hasilnya, rata-rata waktu yang dihabiskan anak di depan layar gawai atau monitor mencapai 5,9 jam per hari, atau setara dengan 41,3 jam dalam sepekan.

“Waktu screen time tertinggi terjadi pada malam hari, yakni sebesar 70,7 persen, diikuti sore hari 21,1 persen, dan siang hari 7,3 persen. Sementara itu, penggunaan di pagi hari hanya 0,8 persen, karena anak fokus pada aktivitas sekolah,” ujar Nanik, Senin (28/7/2025).

Lebih lanjut, ia memaparkan, bahwa sebagian besar penggunaan gawai dilakukan untuk aktivitas yang bersifat hiburan. 

“Sebanyak 91,5 persen penggunaan gawai digunakan untuk bermain game dan bermedia sosial. Hanya 8,5 persen yang digunakan untuk kepentingan belajar atau kegiatan produktif,” terang Nanik.

Temuan ini, menunjukkan adanya korelasi antara durasi screen time yang tinggi dengan peningkatan risiko gangguan psikologis, seperti kecemasan, depresi hingga gangguan konsentrasi. 

Anak juga cenderung mengalami impulsivitas, yaitu perilaku mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan akibatnya.

“Anak-anak yang terpapar layar secara berlebihan, lebih rentan mengalami gangguan relasi sosial, kehilangan kontrol emosi serta penurunan kualitas aktivitas harian mereka. Ini sangat mengganggu kesejahteraan psikis mereka,” tambahnya.

Tak hanya berdampak pada aspek mental, lanjut Nanik, pola makan dan tidur anak juga ikut terganggu. 

Anak cenderung melewatkan waktu makan, dan memiliki jam tidur yang tidak teratur. Hal ini, menurut Nanik, berpengaruh besar terhadap kestabilan emosi dan kondisi fisik secara umum.

“Paparan cahaya biru dari layar gawai bisa menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur. Akibatnya, ritme sirkadian terganggu dan tidur anak jadi tidak berkualitas. Dampaknya, mereka sulit fokus, mudah stres dan emosi tidak stabil,” jelasnya.

Nanik juga menekankan, bahwa anak yang terlalu lama di depan layar, cenderung kurang bergerak dan berinteraksi langsung dengan orang lain. 

Padahal, aktivitas fisik dan interaksi sosial sangat penting dalam menunjang tumbuh kembang anak secara optimal, terutama dalam aspek emosional dan sosial.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved