Penggunaan Bahasa Jawa di Sekolah, Pakar Budaya Unair : Konsistensi Sangat Penting

Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang mewajibkan penggunaan bahasa Jawa setiap hari Kamis di sekolah mendapat tanggapan positif

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id/Sulvi Sofiana
BAHASA JAWA - Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Puji Karyanto SS MHum. Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang mewajibkan penggunaan bahasa Jawa setiap hari Kamis di sekolah mendapat tanggapan positif dari akademisi. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang mewajibkan penggunaan bahasa Jawa setiap hari Kamis di sekolah mendapat tanggapan positif dari akademisi. 

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Puji Karyanto SS MHum, menyebut langkah tersebut sebagai bentuk rekayasa budaya yang penting untuk menjaga eksistensi budaya Jawa.

"Budaya bisa lestari lewat jalur alami maupun rekayasa. Kebijakan ini bagian dari rekayasa budaya agar bahasa Jawa tetap hidup," ujarnya.

Baca juga: Mahasiswa Universita Ciputra Surabaya Ubah Limbah Lantai Dek Jadi Produk Interior Inovatif

Menurut Puji, penggunaan bahasa Jawa di kalangan generasi Z terus menurun. Hal itu tampak dari rendahnya nilai pelajaran bahasa Jawa dibanding bahasa asing. 

Meski demikian, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaannya di lapangan.

“Surabaya bukan pusat budaya Jawa, maka perlu pendekatan khusus untuk menanamkan rasa bangga berbahasa Jawa. Implementasi yang konsisten sangat penting,” katanya.

Baca juga: Beraksi di 6 Lokasi, Maling Tabung Gas Minimarket Diringkus Polres Gresik

Ia menyoroti perlunya keterlibatan semua pihak, terutama mengingat keragaman bahasa ibu siswa. 

Selain itu, Puji menilai kebijakan ini harus disertai integrasi dengan kesenian dan sastra Jawa agar lebih menarik dan bermakna.

“Belajar tembang macapat, misalnya, bisa menjadi cara menyenangkan mengenalkan kekayaan sastra Jawa. Bahasa Jawa juga kaya akan rasa dan unggah-ungguh,” jelasnya.

Puji berharap kebijakan ini tidak berhenti pada formalitas. 

“Harus ada evaluasi berkala, serta inovasi dalam penyampaian agar lebih dekat dengan keseharian generasi muda,” pungkasnya.

BACA BERITA SURYA.CO.ID LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved