Minggu, 12 April 2026

Anak Bunuh Ayah di Jember

Komentar Psikolog Terkait Fenomena Pembunuhan Brutal di Jember

Fenomena kasus pembunuhan brutal di Kabupaten Jember, Jawa Timur , menjadi sorotan psikolog.

Penulis: Imam Nahwawi | Editor: Cak Sur

SURYA.CO.ID, JEMBER - Fenomena kasus pembunuhan brutal di Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), menjadi sorotan psikolog.

Seorang pria bernama Iman Nurhakiki tega membunuh ayah kandung dan majikannya di Desa/Kecamatan Umbulsari, Jember.

Mengingat, tersangka secara brutal membacok ayah kandungnya, Imam Syafii dan Armanu, majikannya dengan tebasan sabit. 

Baca juga: Kondisi Istri Almarhum Imam Syafii, Korban Pembunuhan Brutal di Jember

Bahkan, pelaku juga menganiaya istri beserta pamannya.

Ketua Jurusan Psikologi dan Bimbingan Konseling Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Dr Muhammad Muhib Alwi SPsi MA, mengatakan bahwa bisanya tindakan tersebut akibat rentetan kejadian sebelumnya.

"Terjadi bukan secara tiba-tiba, pasti ada rentetan sebelumnya. Perilaku (pembunuhan) itu adalah ledakan dari tindakan sebelumnya," ujar Muhib melalui sambungan telepon pada Senin (16/6/2025).

Dia menduga, tersangka telah memendam emosi yang mendalam, tetapi tak diceritakan pada orang lain, sehingga tidak terungkap.

"Biasanya perilaku seperti itu terjadi pada orang yang memiliki kecenderungan introvert, sehingga dia tidak mengungkap kekesalannya pada orang lain karena dipendam. Bisa jadi seperti itu, walaupun ini tidak mutlak benar," jelas Munib.

Baca juga: Adik Pelaku Pembunuhan Brutal di Jember Menangis, Mengingat Peristiwa yang Menimpa Keluarganya

Mengingat, lanjutnya, berdasarkan pemberitaan di media, tersangka sepertinya sudah menyiapkan segala alat saat membantai para korbannya. 

"Karena itu masuk pembunuhan berencana. Sangking dia ditindak oleh polisi sampai akhirnya meninggal dunia," tutur Munib.

Munib meyakini, tersangka memiliki rasa marah yang begitu dalam, sampai tidak terkontrol hingga menghabisi nyawa juragan dan keluarganya sendiri.

Hal itu dikuatkan dari keseharian pelaku selama ini dikenal sebagai pemuda yang baik di lingkungannya. 

"Kalau sampai melakukan tindakan ini, pasti ada pemicunya hingga meledaklah emosinya, itu dari sudut pandang psikologi," ujar Munib.

Oleh karena itu, Munib menyarankan kepada tua agar tetap membuka kran komunikasi dengan anaknya, meskipun mereka sudah menikah. 

"Komunikasi itu untuk mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah anak, peduli terhadap anak dan tahu pikiran anak," imbaunya.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved