Praktis dan Ramah Lingkungan, Permintaan Besek Bambu di Jombang Meroket Saat Musim Kawinan

Arif Susanto, seorang perajin besek di Jombang mengungkapkan bahwa peningkatan pesanan mulai terasa sejak dua bulan terakhir. 

Penulis: Anggit Puji Widodo | Editor: Deddy Humana
surya/Anggit Puji Widodo (anggitkecap)
BESEK HAJATAN - Proses pembuatan besek untuk hajatan di Dusun Kepuhrejo, Desa Grogol, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Minggu (15/6/2025). 

SURYA.CO.ID, JOMBANG - Musim hajatan yang mulai marak selepas Idul Adha membawa berkah tersendiri bagi perajin besek bambu di Dusun Kepuhrejo, Desa Grogol, Kecamatan Diwek. 

Kenaikan pesanan besek untuk hantaran atau tempat makanan meningkat drastis, bahkan mencapai tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Arif Susanto, seorang perajin besek di Jombang mengungkapkan bahwa peningkatan pesanan mulai terasa sejak dua bulan terakhir. 

Produksinya seperti rantang ekonomis (dikenal sebagai rangko), tempat hantaran lamaran dan pernikahan, serta besek bambu premium menjadi favorit pelanggan.

“Biasanya kami produksi sekitar 500-an per item, sekarang bisa tembus 1.500 setiap jenisnya dalam sebulan. Terutama yang dipakai untuk sajian makanan dan perlengkapan hajatan,” ucap Arif, Minggu (15/6/2025).

Menurut Arif, trend ini terjadi setiap tahun, terutama setelah momen besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Permintaan besek untuk hajatan biasanya melonjak karena banyak warga memanfaatkan bulan Syawal dan Dzulhijjah untuk menggelar pernikahan atau acara keluarga.

“Dua bulan setelah Lebaran Idul Fitri kami sibuk memproduksi besek untuk kurban. Setelah itu langsung disusul permintaan hajatan. Ini sudah jadi pola tahunan,” tambahnya.

Pesanan yang diterima Arif tidak hanya dari wilayah Jombang saja. Beberapa pelanggan tetap datang dari luar daerah seperti Mojokerto, Surabaya, hingga Pasuruan dan Malang. 

Hal ini menunjukkan bahwa produk lokal dari Diwek sudah dikenal luas karena kualitas dan keunikannya.

Meski pesanan meningkat tajam, Arif menyatakan tidak mengalami kendala berarti dalam ketersediaan bahan baku. Bambu sebagai bahan utama masih mudah didapatkan dari para pemasok lokal.

“Kami tetap bisa memenuhi permintaan, karena stok bambu sejauh ini mencukupi. Justru kami senang karena banyak masyarakat mulai kembali ke kemasan ramah lingkungan seperti besek ini,” pungkasnya.

Arif memperkirakan kenaikan permintaan akan terus berlangsung hingga Juli mendatang, bersamaan puncak musim pernikahan di sejumlah daerah. 

Ia pun terus meningkatkan produksi bersama para pekerja di bengkel kerajinan miliknya untuk memenuhi seluruh pesanan yang sudah masuk. *****

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved